Sabtu, 28 Mei 2011

Wali Songo : Sunan Muria

Raden Umar Syaid, atau Raden Said yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Sunan Muria adalah salah seorang dari kesembilan wali yang terkenal di Jawa. Dalam riwayat dikatakan bahwa beliau adalah putera dari Sunan Kalijaga, nama kecilnya ialah Raden Prawoto, dalam perkawinannya dengan Dewi Soejinah putri Sunan Ngudung, jadi kakak dari Sunan Kudus, Sunan Muria memperoleh seorang putera yang diberi nama Pangeran Santri, dan kemudian mendapat julukan dengan : Sunan Ngadilungu.
Sunan Muria juga terhitung salah seorang penyokong dari kerajaan Bintoro yang setia, disamping ikut pula mendirikan masjid Demak., semasa hidupnya dalam menjalankan dakwah ke-Islam-an, yang menjadi daerah operasinya terutama adalah di desa-desa yang jauh letaknya dari kota pusat keramaian. Beliau lebih suka menyendiri dan bertempat tinggal di desa, bergaul serta hidup di tengah-tengah rakyat jelata. Sunan Muria lebih suka mendidik rakyat jelata tentang agama Islam disepanjang lereng Gunung Muria yang terletak 18 KM jauhnya di sebelah utara kota Kudus, Jawa Tengah. 
Cara beliau menjalankan dakwah ke-Islam-an adalah dengan jalan mengadakan kursus-kursus terhadap kaum dagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata.Beliaulah kabarnya yang mempertahankan tetap berlangsungnya gamelan sebagai satu-satunya seni Jawa yang sangat digemari rakyat serta dipergunakannya untuk memasukkan rasa ke-Islam-an ke dalam jiwa rakyat untuk mengingat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Disamping itu beliau adalah pencipta dari gending "Sinom dan Kinanti". Kini beliau dikenal dengan sebutan Sunan Muria, oleh karena beliau dimakamkan diatas gunung Muria, termasuk dalam daerah kerajaan Kudus. 

Wali Songo : Maulana Malik Ibrahim (Wafat 1419)

Maulana Malik Ibrahim, dikenal juga dengan sebutan Maghribi atau Syekh Maghribi. Meskipun beliau bukan asli orang Jawa, namun beliau telah berjasa kepada masyarakat. Karena beliaulah yang pertama kali memasukkan Islam ke tanah Jawa. Sehingga berkat usaha dan jasanya, penduduk pulau Jawa yang kebanyakan masih beragama Hindu dan Buddha di kala itu, akhirnya mulai banyak memeluk agama Islam.
Adapun dari kalangan orang-orang Hindu, hanya dari kasta-kasta Waisya dan Syudra yang dapat di ajak memeluk agama Islam. Sedang dari kasta-kasta Brahmana dan Ksatria pada umumnya tidak suka memeluk Islam, bahkan tidak sedikit dari kalangan Brahmana yang lari sampai ke pulai Bali, serta menetap disana. Mereka akhirnya mempertahankan diri hinggga sekarang. Agama mereka kemudian dikenal dengan sebutan agama Hindu Bali.
Apabila dikalangan kaum Brahmana dan Ksatria tidak suka masuk agama Islam, hal itu mudah dimengerti karena bagi mereka tentunya agak berat untuk duduk sejajar bersama-sama dengan kaum Waisya dan Syudra yang selama ini mereka hina. Sudah barang tentu dengan adanya konsepsi Islam yang radikal dan
revoulsioner dalam bidang sosial, sukar sekali untuk diterima dengan kedua belah tangan terbuka oleh mereka. Sebab bukankah mereka selama ini telah didewa-dewakan, tiba-tiba turun tahta, duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan bekas hamba sahaya mereka, rakyat jelata yang selama ini telah memuja serta mendewa-dewakan mereka.
Maulana Malik Ibrahim mulai menyiarkan agama Islam di tanah Jawa terutama didaerah Jawa Timur. Dari sanalah beliau memulai menyingsingkan lengan bajunya, berjuang untuk mengembangkan agama Islam. Caranya pertama yang beliau pakai ialah dengan jalam mendekatkan diri dengan pergaulan dengan anak negeri kala itu. Dengan budi bahasa yang ramah tamah serta ketinggian akhlak, sebagaimana diajarkan oleh Islam, hal itu senantiasa diperlihatkannya didalam pergaulan sehari-hari. Beliau tidak menentang secara tajam kepada agama dan kepercayaan hidup dari penduduk asli. Begitu pula beliau tidak menentang secara spontan terhadap adat istiadat yang ada serta berlaku dalam masyarakat kita yang masih memeluk agama Hindu dan Buddha itu, melainkan beliau hanya memperlihatkan kaindahan dan ketinggian ajaran-ajaran dan didikan yang dibawa oleh Islam. 
Berkat keramah tamahannya serta budi bahasa dan pergaulannya yang sopan santun itulah, banyak anak negeri yang tertarik masuk ke dalam agama Islam. Untuk mempersiapkan kadur ummat yang terdidik bagi melanjutkan perjuangan guna menegakkan ajaran-ajaran Islam di tanah air kita, maka dibukanyalah pesantren - pesantren yang merupakan perguruan Islam tempat mendidik serta menggembleng para siswa sebagai calon mubaligh Islam untuk masa depan. 
Bertambah banyak orang yang masuk Islam, bertambah berat pula tugas dan pekerjaannya. Tentu saja orang-orang itu tidak dibiarkan begitu saja. Mereka harus diberi didikan dan penerangan secukupnya sehingga keimanannya menjadi kuat dan keyakinannya menjadi kokoh. Di dalam usaha yang sedemikian itu, beliau kemudian menerima tawaran dari raja negeri Cheermen, raja Cheermen itu sangat berhajat untuk meng-Islam-kan raja Majapahit yang masih beragama Hindu. Seperti ternyata kemudian, dari hasil didikannya akhirnya tersebar diseluruh penjuru tanah air mubaligh-mubaligh islam yang dengan tiada jemu-jemunya menyiarkan ajaran-ajaran agamanya. Dalam riwayat dikatakan, bahwa Maulana Maghribi itu adalah keturunan dari Zainul Abidin Bin Hassan Bin Ali ra, keterangan ini menurut buku karangan Sir Thomas Stamford Raffles.
Sebagaimana diketahui, Stamford Raffles (1781-1826) adalah seorang ahli politik Inggris, serta bekas letnan Gubernur Inggris ditanah Jawa dari tahun 1811-1816 M. Adapun bukunya yang terkenal mengenai tanah Jawa adalah :
"History of Java" yang ditulisnya pada tahun 1817 M. 
Mengenai filsafat Ketuhanannya, diantaranya Syekh Maulana Malik Ibrahim pernah mengatakan apakah yang dinamakannya Allah itu ? ujarnya "Yang dinamakan Allah ialah sesungguhnya yang diperlukan adanya,...............? Menurut setengah riwayat mengatakan, bahwa beliau berasal dari Persia. Bahkan dikatakan bahwa Maulana Malik Ibrahim beripar dengan raja di negeri Cheermen. Mengenai letak negeri Cheermen itu terletak di Hindustan, sedangkan ahli sejarah yang lain mengatakan bahwa letaknya Cheermen adalah di Indonesia. Adapun mengenai nama kedua orang tuanya, kapan beliau dilahirkan serta dimana, dalam hal ini belum diketahui dengan pasti. Ada yang mengatakan bahwa beliau berasal dari Kasyan (Persia). 
Kapan beliau meninggal dunia ? Kalau ditilik dari batu nisan yang terdapat pada makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik, dekat Surabaya terukir sebagai tahun meninggalnya 882 H, atau tahun 1419 M. Di dalam sumber menyebutkan, bahwa beliau itu berasal dari Gujarat India, yang rupanya disamping berniaga, beliau juga menyiarkan agama Islam. Makam Maulana Malik Ibrahim yang terletak dikampung Gapura di Gresik, sekarang jalan yang menuju kemakam tersebut diberi nama jalan Malik Ibrahim. 
Dalam sejarah beliau dianggap sebagai pejuang serta pelopor dalam menyebarkan agama Islam ditanah Jawa, jasa yang sangat luar biasa besarnya dari beliau terhadap agama dan masyarakat.

Wali Songo : Sunan Kudus

Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang
Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.
Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.
Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.
Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.
Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.

Wali Songo : Sunan Kalijaga

Dialah "wali" yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam.
Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.
Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebondan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam ('kungkum') di sungai (kali) atau "jaga kali". Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab "qadli dzaqa" yang menunjuk statusnya sebagai "penghulu suci" kesultanan. 
Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang "tatal" (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga. 
Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung "sufistik berbasis salaf" -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah. 
Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. 
Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga. 
Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede - Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak

Wali Songo : Sunan Gunung Jati

Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra' Mi'raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii).
Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina.
Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.
Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya "wali songo" yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.
Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.
Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.
Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.
Falatehan atau Fatahillah, menurut keterangan beberapa ahli berasal dari Pasei, sebelah utara Aceh, akan tetapi ada juga yang mengatakan, bahwa beliau berasal serta mempunyai darah keturunan Persia. Masa kelahirannya belum diketahui dengan pasti, hanya yang jelas beliau dilahirkan di Pasai. Ada yang menyatakan juga, beliau itu putera dari Raja Mekkah (Arab) yang menikah dengan puteri kerajaan Pajajaran (Sunda).
Mengenai namanya pun belum terdapat kesatuan pendapat diantara pada ahli sejarah, Sunan Gunung jati namanya banyak diantaranya adalah :Muhammad Nurudin, Syekh Nurullah, Sayyid Kamil, Bulqiyah, Syekh Madzkurullah, Syarif Hidayatullah, Makdum Jati. Sedangkan menurut babad-babad, namanya Sunan Gunung Jati sangat panjang, yaitu Syekh Nuruddin Ibrahim Ibnu Israil, Syarif Hidayatullah, Said Kamil, Maulana Syekh Makdum Rahmatullah, dan kemudian sesudah mangkatnya digelarkan dengan sebutan Sunan Gunung Jati.
Menurut Barros, salah seorang ahli sejarah Portugis Sunan Gunung Jati itu namanya adalah : "Falatehan". Akan tetapi menurut Fernando Mendes Pinto, seorang pengembara Portugis yang pernah datang ke tanah Jawa, menceritakan bahwa pada tahun 1546 Raja Sunda namanya Taragil. Mengenai Taragil in, Prof. Dr. A Hoesin Djajadiningrat berpendapat bahwa kemungkinan Taragil itu salah ucapan dari kata Fakhril, kemudian mengenai nama Sunan Gunung Jati, menurut dugaan Prof. Hoesin, yang dimaksudkan dengan Faletehan, kemungkinan berasal dari bahasa arab Fatkhan, dari kata Fath. Hal ini mengingat bahwa dalam tahun 1919 ada seorang naib dari kawedanan Singen Lor, di semarang yang bernama Haji Mohammad Fathkan. Menurut penyelidikan Dr. B.J.O. Schrieke, salah seorang orientalis Barat yang terkenal, mengatakan bahwa nama Falatehan itu mungkin berasal dari perkataan Arab : Fatahillah. 
Adapun yang mengidentifisir nama Faletehan dengan Sunan Gunung Jati dengan Taragil, adalah Prof. Dr. A Hoesin Djajadiningrat. Faletehan ketika masih kecil belajar agama pada orang tuanya di Pasaii. Pada suatu ketika tatkala Feletehan telah menginjak dewasa daerah Pasai tempat kelahirannya diduduki oleh bangsa Portugis yang datang dari Malaka.
Malaka dapat direbut oleh bangsa Portugis pada tahun 1511 M. Pendudukan Portugis atas daerah Pasai (Aceh) ini menimbulkan dendam kesumat terhadap pemuda Faletehan. Perasaan benci kepada penjajah pun mulai berkobar pula dalam dadanya. Pada akhirnya beliau menyingkir dari tanah tumpah darahnya, dan pergi ke Tanah Suci (Mekkah). 
Di tanah suci Faletehan menuntut ilmu serta memperdalam pengetahuannya tentang Islam. Sesudah beliau pergi merantau ke tanah Arab selama kurang lebih 3 tahun dikiranya orang-orang Portugis sudah pergi meninggalkan bumi Tanah Pasei, tetapi kenyataannya tidaklah demikian, mereka ternyata masih berada disana dan menambah kepedihan dan kemarahan hatinya.
Faletehan bertekad untuk meninggalkan tanah airnya kembali dan bertolak ke tanah Jawa, sudah barang tentu kedatan Faletehan ini disambut baik oleh kerajaan Islam di Demak yang pada masa itu berada di bawah pemerintahan Raden Trennggono, yang memerintah dari tahun 1521-1546 M.
Pada jaman Trenggono inilah kerajaan demak mengalami masa keemasannya. Daerah kekuasannya semakin luas, disamping itu juga telah memiliki armada yang kuat, sehingga pada jaman Pati Unus (1518-1521) pernah menyerang portugis di Malaka, meskipun tidak berhasil. Pada masa Trenggono pula, berkat usaha dan jasa Faletehan beberapa daerah di Jawa Barat di-Islam-kan serta berada di bawah kekuasaan kerajaan Demak. Oleh kerena itu kedatangan Faletehan ini merupakan suatu sumbangan yang besar sekali artinya bagi penyiaran dan penyebaran Islam selanjutnya.
Unntuk memikat hati pemuda Faletehan supaya merasa senang dan tetap tinggal di Jawa, maka Faletehan dinikahkan dengan adik dari Raden Trenggono. Dengan demikian bertambah eratlah hubungan persahabatan biasa menjadi kekeluargaan, pada masa itu jawa barat masih merupakan daerah kekuasaan orang Hindu, Banten dan Sunda Kelapa-pun masuk dalam jajahan kerajaan Pejajaran. Maka dengan seizin Raden Trenggono akhirnya dikirimlah suatu ekspedisi menuju Banten, dibawah pimpinan Faletehan untuk menyiarkan agama Islam di sana.
Lama kelamaan Banten dapat dikuasai oleh Faletehan, demikian juga Sunda Kelapa. Ketika orang-orang portugis datang di Sunda Kelapa, diusir oleh Faletehan begitu pula dibunuhnya anak kapal yang terdampar dekat pelabuhan Sunda Kelapa (1526) dan kemudian Fransisco De Sa pun dipukul mundul oleh Faletehan dengan mendapat kerugian sehingga kembali ke Malaka (1527) Setahun kemudian Cireboh jatuh pula ke tangan Faletehan (1528) sehingga Banten, Sunda Kelapa dan Cirebon akhirnya berada di bawah kekuasanaan Faletehan, dengan demikian Sunan Gunung Jati telah merintis jalan perhubungan di pantai utara dari Jawa Barat yang menyebabkan sepanjang pesisir utara sejak dari banten Sunda Kelapa, dan Cirebon. Demak, Jepara, Kudus, Tuban dan Gresik berada di tangan orang Islam.
Semenjak itu Sunan Gunung Jati tidak lagi menetap di Demak, melainkan tetap bertempat tinggal di Cirebon hingga akhir wafatnya. Meskipun Sunan Gunung Jati telah berhasil meng-Islam-kan beberapa daerah di Jawa Barat, namun demikian, kekuasaan tertinggi masih berada di tangan Demak, hanya sesudah Trenggono wafat, barulah Faletehan menyatakan memisahkan diri dari ikatan Demak, yaitu tatkala Demak terjadi perselisihan antara Sultan Adiwijaya dengan Arya Penangsang. Konon kabarnya yang memberikan gelar Sultan kepada Raden Trenggono adalah Sunan Gunung Jati. Pada tahun 1570 M. Sunan Gunung Jati pulang ke-Rahmatullah serta dikebumikan di Gunung Jati (Cirebon), sehingga akhirnya beliau dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati.

Wali Songo : Sunan Giri

Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya--seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma)
Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.
Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah "giri". Maka ia dijuluki Sunan Giri.
Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata.
Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa.
Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.
Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.
Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.

Sewaktu Sunan Ampel masih hidup, di Gresik ada pula seorang penganjur agama yang terkenal, namanya Raden Paku, disebut juga sebagai Prabu Satmata, atau Sultan Abdul Fakih, beliau adalah putera Maulana Ishak dari Blambangan (di Jawa Timur). Maulana Ishak dikatakan dari Blambangan, oleh karena beliau ditugaskan oleh Sunan Ampel untuk menyebarkan agama Islam di daerah Blambangan yang pada masa itu masih kuat memeluk agama Hindu dan Budha.
Berhubung ayahnya ke Pasai dan tidak kembali lagi ke tanah Jawa maka Raden Paku kemudian diambil sebagai putera angkat oleh salah seorang wanita kaya, Nyi Gede Maloka namanya. Kalau di babad tanah jawa, disebut Nyai Ageng Tandes atau Nyai Ageng saja. Sesudah beliau besar disekolahkannya ke Ampel untuk berguru kepada Raden Rahmat (Sunan Ampel). Di sana Raden Paku bertemu dengan Maulana Makdum Ibrahim, putera-putera Sunan Ampel yang kemudian bergelar Sunan Bonang.
Kemudian bersama-sama dengan Maulana Makdum Ibrahim, Raden Paku oleh Sunan Ampel di suruh pergi haji ke Tanah Suci, sampai memperdalam ilmunya. Tetapi mereka sebelum sampai di tanah suci singgah terlebihdahulu di Pasai (Aceh), untuk menuntut ilmu kepada para ulama disana. Yang imaksud ilmu di sini adalah ilmu ke Tuhanan menurut ajaran Tasawuf. Konon kabarnya memang banyak ulama-ulama keturunan India dan Persia yang membuka pengajian di pasai di waktu itu. Bahkan banyak pula ulama-ulama dari Malaka juga kadang-kadang datang bertanya tentang sesuatu masalah ke Pasai.
Sesudah kedua tunas muda itu selesai menuntut pelajaran di sana, merekapun kembalilah ke tanah Jawa. Raden Paku berhasil mendapat "Ilmu Laduni", sehingga gurunya di pasai memberinya nama "Ainul Yaqin". Raden Paku sekembalinya di tanah Jawa mengajarkan agama Islam menurut bakatnya. Raden paku atau Syekh Ainul Yaqin mengadakan tempat berkumpul yang boleh disebut pondok pesantrennya di Giri.
Murid-muridnya terdiri pada orang-orang kecil (rakyat jelata). Sungguh amat besar jasa Sunan Giri semasa hidupnya, karena beliaulah yang mengirimkan utusan (mission secree) keluar Jawa. Mereka terdiri dari pelajar, saudagar, nelayan. Mereka dikirim oleh Sunan Giri ke pulau Madura, Bawean dan Kangean, bahkan sampai ke Ternate dam Haruku di kepulauan Maluku.
Amat besar pengaruh Sunan Giri terhadap jalannya roda pemerintahan di kerajaan Islam Demak, sehingga sesuatu soal yang penting senantiasa menantikan sikap dan keputusan yang diambil oleh Sunan Giri. Oleh para wali lainnya, beliau dihormati serta disegani. Pada waktu dahulu Giri adalah menjadi sumber ilmu keagamaan, dan termasyhur diseluruh tanah Jawa dan sekelilingnya. Dari segala penjuru, baik dari kalangan atas maupun kalangan bawah banyak yang pergi ke Giri untuk berguru kepada Sunan Giri. Beliaulah kabarnya yang menciptakan gending Asmaradana dan Pucung.
Daeran penyiarannya sampai ke Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan Madura, menurut setengah riwayat, Sunan Giri-lah yang menghukum sesat terhadap diri Syekh Siti Jenar, karena mengajarkan ilmu yang berbahaya pada rakyat. Sunan Giri adalah terhitung seorang ahli pendidik (pedagang) yang berjiwa demokratis. Beliau mendidik anak-anak dengan jalan membuat bermacam-macam permainan yang berjiwa agama. seperti misalnya : jelungan, jamuran, gendi gerit, jor, gula ganti, cublak-cublak suweng, ilir-ilir dan sebagainya.
Diantara permainan kanak-kanak hasil ciptaan/gubahannya adalah rupa "jitungan" atau "jelungan". Adapun caranya adalah begini : Anak-anak banyak, satu diantaranya menjadi "pemburu", lain-lainnya jadi "buruan" mereka ini akan 'selamat' atau 'bebas' dari terkaman 'pemburunya', apabila telah berpegangan pada 'jitungan', yaitu satu pohon, tiang atau tonggak yang telah ditentukan terlebih dahulu. Permainan dimaksudkan untuk mendidik pengertian tentang keselamatan hidup, yaitu : bahwa apabila sudah berpegangan kepada agama yang berdasarkan ke Tuhanan Yang Maha Esa sajalah, maka manusia (buruan) itu akan selamat dari terkaman iblis (pemburunya). Di samping itu diajarkannya pula nyanyian-nyanyian untuk kanak-kanak yang bersifat paedagogis serta berjiwaagama, Di antaranya adalah berupa 'tembung dolanan bocah' (lagu permainan anak-anak), yang berbunyi sebagai berikut : "Padang-padang bulan, ayo gage da dolanan, dolanane naning latar, ngalap padang, gilar-gilar, nundang bagog hangatikar", yang dalam bahasa indonesianya kira-kira begini : "Terang-terang bulan, marilah lekas bermain, bermain dihalaman, mengambil manfaat dari terang benderang, mengusir gelap yang lari terbirit-birit". Adapun maksud dari tembang tersebut di atas itu adalah : Agama Islam (bulan) telah datang memberi penerangan hidup, maka marilah segera orang menuntut penghidupan (dolanan, bermain) di bumi ini (latar, halaman) akan mengambil manfaat ilmu agama Islam (padang, gilar-gilar, terang benderang) itu, agar sesat kebodohan diri (begog, gelap) segera terusir. Disamping itu terkenal pula tembang buat kanak-kanak yang bernama "Ilir-ilir" yang isinya mengandung filsafat serte berjiwa agama. Bunyi selengkapnya adalah demikian. "Lir-ilir, lir ilir, tandure wing angilir, sing ijo royo-royo, tak sengguh kemanten anyar. cah angon, cah angon, penekno blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekno kanggo masuh dodotiro. dodotiro-dodotiro, kumitir bedah ing pinggir, dondomana jrumatana, kanggo sebo mengko sore, mumpung gede rembulane, mumpung jembar kalangane, ndak sorak hore."
Adapun maksudnya adalah demikian : sang bayi yang baru lahir di dalam dunia ini masih suci bersih, murni, sehingga ibarat seperti penganten baru, siapa saja ingin memandangnya, "bocah angon" (pengembala) itu diumpamakan santri, mualim, artinya orang yang menjalankan syariat agama. Sedangkan "blimbing" diibaratkan blimbing itu mempunyai/teridiri dari lima belahannya, maksudnya untuk menjalankan sembahyang lima waktu. Meskipun "lunyu-lunyu" (licin), tolong panjatkan juga, kendatipun sembahyang itu susah, namun kerjakanlah, buat membasuh "dodotira-dodotira, kumitir bedah ing pinggir" maksudnya kendatipun sholat itu susah, tetapi kerjakan guna membasuh hati dan jiwa kita yang kotor ini. "Dondomono, jrumatana, kanggo sebo mengko sore, dan surak-surak hore". Maksudnya " bahwa orang hidup di dalam dunia ini senantiasa condong kearah berbuat dosam segan mengerjakan yang baik dan benar serta utama, sehingga dengan menjalankan sholat itu diharapkan besuk dikelak kemudian dapat kita buat sebagai bekal kita dalam menghadap kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, bekal itu adalah beramal saleh.
Itulah diantara lain buah ciptaan sunan giri. Mengenai tembang (lagu) ilir-ilir ini ada pula yang berpendapat, bahwa itu adalah ciptaan sunan kalijaga. Akan tetapi mengingat bahwa diantara wali sanga, sunan giri yang terkenal sebagai seorang pendidik yang gemar menciptakan lagu-lagu kanak-kanak maka besar dugaan kita bahwa lagu tersebut adalah ciptaan beliau juga. Jika tidak, yang pasti adalah bahwa tembang tersebut adalah ciptaan pada jaman wali. Apakah benar ciptaan sunan kalijaga atau gubahan bersama dengan sunan giri, itu adalah soal secundair.
Sesudah beliau wafat, kemudian dimakamkan di atas bukit Giri (Gresik). Setelah Sunan Giri meninggal dunia, berturut-turut digantikan oleh Sunan Delem, Sunan Sedam Margi, Sunan Prapen. Tatkala Sunan Prapen pada tahun 1597 M, wafat beliau digantikan Sunan Kawis guna, kemudian setelah Sunan Guwa wafat diganti oleh Panembahan Agung. Pada tahun 1638 M Panembahan Agung Giri diganti oleh Panembahan Mas Witana Sideng Rana, beliau wafat pada tahun 1660 M. kemudian atas perintah Sunan Amangkurat I, Pangern Puspa Ira (Singonegoro) ditempatkan di Giri. Mulai saat sunan Amangkurat II memegang kendali pemerintahan, Giri maupun Gresik mengalami perubahan yang tidak sedikit. Akibat daripada serangan Amangkurat II yang dibantu oleh kompeni akhirnya pada tanggal 27 april 1680 jatuhlah kekuasaan Pengeran Giri ke tangan Amangkurat II. Semenjak itu Giri cahanya mulai pudar, hanya tinggal kenang-kenangan dalam sejarah kebangunan Islam di tanah Jawa.

Wali Songo : Sunan Drajat

Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M.
Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun Jelog --pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan.
Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk. Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah "berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang'.
Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.
Syarifuddin atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Drajat adalah seorang putera dari Sunan Ampel, sebagaimana ayahnya, maka puteranya inipun kemudian menjadi seorang penganjur pula dalam agama Islam. Beliau juga ikut mendirikan kerajaan Islam di Demak dan menjadi penyokong yang setia. 
Daerah operasinya adalah di Jawa Timur. Sunan Drajat adalah seorang sosiawan Islam dab seorang waliullah yang berjiwa sosial. Dalam menjalankan agama, beliau juga tidak segan-segan memberikan pertolongan kepada kesengsaraan umum, seperti membela anak-anak yatim piatu, orang-orang saki, para fakir miskin dan lain-lain. 
Konon beliau kabarnya adalah pencipta gending Pangkur. Apabila dikatakan bahwa syarifoeddin atau Sunan Drajat itu mempunyai jiwa sosial maka hal itu adalah benar, karena pada hakekatnya setiap pribadi muslim itu adalah juga seorang sosialis. Bukanlah muslim namanya jikalau dia tidak berjiwa sosial, sebab memang demikianlah ajaran di dalam agama Islam. 
Jadi bilamana Sunan Drajat memberi contoh serta menganjurkan kepada rakyat agar memiliki jiwa sosial serta menganjurkan agar supaya rakyat suka menolong para fakir dan miskin yang sedang mengalami penderitaan dan kesempitan, maka hal itu adalah sesuai dengan tuntunan agama. Tidakkah Islam mengajarkan kepada kita bahwa apabila disekitar tetangga kita terdapat orang yang kelaparan, maka berdosalah kita semua. Jadi agama melarang kita sendiri hidup dalam lautan kenikmatan dan kemewahan, sedangkan lainnya hidup dalam kesengsaraan dan kemiskinan. Karena agama islam memang tidak membenarkan adanya individualisme dan egoisme, melainkan yang senantiasa ditekankan oleh islam di dalam sepanjang ajaran-ajarannya ialah rasa kolektivisme, hidup didalam kerukunan hidup dalam suasana gotongroyong, tolong menolong, bahu membahu, hidup dalam persaudaraan. 
Jauh sebelum itu di barat timbul semboyan egalite dan fraternite, maka islam telah mengajarkan kepada setiap pemeluknya untuk menanamkan rasa persaudaraan dan kerukunan, tidakkah Islam mengatakan, bahwa sebaik-baiknya manusia di dunia ini, ialah manusia yang bermanfaat bagi sesamanya. Demikian intisari dari ajaran yang terkandung di dalam Islam. dan itulah yang dipraktekkan oleh sunan drajat semasa hidupnya.

Wali Songo : Sunan Ampel

Raden Rahmat atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ampel, terkenal sebagai salah seorang wali yang telah ikut serta menegakkan agama Islam. Untuk memulai usahanya, Raden Rahmat membuka pondok pesantren di Ampeldenta, Surabaya. Di tempat inilah hendak dididiknya para pemuda-pemuda islam sebagai kader yang terdidik, untuk kemudian disebarkan keberbagai tempat diseluruh pulai jawa.
Seperti kita ketahui Raden Paku yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Giri, Raden Patah yang kemudian menjadi Sultan pertama dari kerajaan Islam di Bintoro Demak, Raden Makdum Ibrahim (puteranya sendiri) yang Belakangan dikenal dengan dengan sebutan Sunan Bonang, Syarifuddin (puteranya sendiri) yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Drajat, Maulana Ishak yang pernah diutus ke daerah Blambangan untuk meng-Islam-kan rakyat disana, Dan bukan menjadi rahasia lagi, bahwa Raden Rahmat atau Sunan Ampel yang menjadi perencana dari kerajaan islam pertama di jawa yang beribu kota di Bintoro Demak, dengan mengangkat Raden Patah sebagai Sultannya yang pertama.
Negara baru di Demak itu adalah hasil rencana dari Sunan Ampel. Inilah jasa beliau yang besar. Semasa hidupnya beliau juga ikut ikut mendirikan Masjid Agung demak yang dibangun kira-kira pada tahun Saka 1401 atau kira-kira bertepatan dengan tahun Masehi 1479. Ada pula yang berpendapat bahwa berdirinya masjid Demak adalah berdasarkan candrasengkala yang berbunyi : "Kori Trus Gunaning Janmi" yang artinya adalah tahun Saka 1399 atau bertepatan dengan tahun 1477 M. Adapun berdirinya kerajaan Bintoro Demak bersengkala "Geni Mati Siniram Janmi", yang artinya api mati disiram orang. 
Bagaimana pendapat Sunan Ampel terhadap berbagai masalah kepercayaan dan adat istiadat masyarakat ?, kiranya dapat kita ketahui dari hasil pada pemusyawaratan para wali. Pada waktu Sunan Kalijaga mengusulkan agar adat istiadat Jawa seperti selamatan, bersesaji itu dimasuki rasa ke-Islam-an, maka Sunan Ampel pun bertanyalah : "Apakah tidak mengkhawatirkan dikemudian hari ? bahwa adat isitadat dan upacara - upacara lama itu nanti akan dianggap sebagai ajaran Islam, sebab kalau demikian nanti apakah hal ini tidak akan menjadikan bid'ah?". Pertanyaan Sunan Ampel ini kemudian dijawab oleh sunan Kudus sbb : "Saya setuju dengan pendapatnya Sunan Kalijaga, sebab menurut pelajaran agama Budha itu ada persamaannya dengan ajaran Islam, yaitu orang kaya harus menolong kepada fakir miskin. Adapun mengenai kekhawatiran tuan, saya mempunyai keyakinan bahwa dikemudian hari akan ada orang Islam yang akan menyempurnakannya".
Raden Rakhmat dilahirkan kira-kira dalam tahun 1401 M, di Champa, sebagai putera dari raja Champa. Mengenai nama Champa ini berselisih para ahli sejarah. Kalau menurut Encyclopedia Van Nederlandesh Indie, Champa ini suatu negeri kecil yang terletak di Kamboja. akan tetapi Raffles, mengatakan bahwa Champa itu bukan di Kamboja, tetapi terletak di Aceh (Sumatera) yang sekarang bernama : Jeumpa. Hal ini besar kemungkinan mengingat bahwa Aceh dalam sejarah terkenal sebagai daerah pertama di Indonesia yang memeluk agama Islam.Menurut riwayat dikatakan, bahwa Sunan Ampel adalah putera dari Ibrahim Asmarakandi yang dikatakan berasal dari Champa dan menjadi raja di sana, kemudian wafat pada tahun 1425 M, serta dimakamkan di Tuban.
Sunan Ampel kemudian menikah dengan putri Tuban bernama Nyai Ageng Manila, dari perkawinannya ini beliau memperoleh 4 orang putra: Putri Nyai Ageng Maloka, Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Syarifuddin (Sunan Drajat) dan seorang putri yang kemudian menjadi Istri dari Sunan Kalijaga. 
Pada waktu kerajaan Islam Demak berdiri, Sunan Ampel juga yang mengangkat serta menetapkan Raden Patah yang berkedudukan di desa Glagah Wangi yang kemudian bertukar nama menjadi Bintoro Demak, sebagai Sultan pertama dengan gelar: Sultan Alam Akbar Al Fatah. 
Kota Demak sendiri letaknya disebelah selatan kota Kudus, �25 KM. Itulah sedikit mengenai diri dan perjuangan Sunan Ampel.

Wali Songo : Sunan Bonang

Raden Maulana Makdum Ibrahim, atau yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Bonang, adalah seorang putera dari Sunan Ampel.
Berbicara tentang Sunan Bonang yang namanya didepannya tercantum kata-kata Maulana Makdum, mengingatkan kita kembali kepada cerita di dalam sejarah Melayu. Konon kabarnya dalam sejarah Melayu pun dahulu ada pula tersebut tentang cendekiawan islam yang memakai gelar Makdum, yaitu gelar yang lazim dipakai di India. kata atau gelar Makdum ini merupakan sinonim kata Maula atau Malauy gelar kepada orang besar agama berasal dari kata KhodamaYakhdamu dan infinitifnya (masdarnya) khidmat. Maf'ulnya dikatakan makhdum artinya orang yang harus dikhidmati atau dihormati karena kedudukannya dalam agama atau pemerintahan Islam di waktu itu.
Salam, seorang besar yang mengepalai suatu departemen ketika terjadi pembentukan adat yang berdasarkan Islam, tatkala agama Islam memasuki lingkungan Minangkabau, juga berpangkat Makdum. Rupanya Makhdum atau Mubaligh Islam yang berpangkat atau bergelar Makhdum itu datang ke Malaka dalam abad ke XV, ketika Malaka mencapai puncak kejayaannya.

Kembali mengenai diri Sunan Bonang, disamping beliau adalah putera Sunan Ampel tetapi juga sekaligus menjadi muridnya. Adapun daerah operasinya semasa hidupnya adalah Jawa Timur. Disanalah beliau mulai berjuang menyebarkan agama Islam. Beliau adalah putera dari Sunan Ampel dalam perkawinannya dengan Nyai Ageng Manila, seorang putera dari Arya Teja, salam seorang Tumenggung dari kerajaan Majapahit yang berkuasa di Tuban.
Menurut dugaan Sunan Bonang dilahirkan dalam tahun 1465 M, serta wafat pada tahun 1525 M. Maulana Makhdum Ibrahim, semasa hidupnya dengan gigih giat sekali menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Timur, terutama di daerah Tuban dan sekitarnya. Sebagaimana ayahnya, Sunan Bonang pun mendirikan pondok pesantren di daerah Tuban untuk mendidik serta menggembleng kader-kader Islam yang akan ikut menyiarkan agama Islam ke seluruh tanah Jawa. Konon beliaulah yang menciptakan gending Dharma serta berusaha mengganti nama-nama hari nahas/sial menurut kepercayaan Hindu, dan nama-nama dewa Hindu diganti dengan nama-nama malaikat serta nabi-nabi. Hal ini dimaksudkan untuk lebih mendekati hati rakyat guna diajak masuk agama Islam. Di masa hidupnya, beliau juga termasuk penyokong dari kerajaan Islam Demak serta ikut membantu mendirikan Masjid Agung di kota Bintoro Demak.
Adapun mengenai filsafat Ketuhanannya, adalah :
"Adapun pendirian saya adalah, bahwa imam tauhid dan makrifat itu terdiri dari pengetahuan yang sempurna, sekiranya orang hanya mengenal makrifat saja, maka belumlah cukup, sebab ia masih insaf akan itu. Maksud saya adalah bahwa kesempurnaan barulah akan tercapai hanya dengan terus menerus mengabdi kepada Tuhan. Seseorang itu tiada mempunyai gerakan sendiri, begitu pula tidak mempunyai kemauan sendiri, dan seseorang itu adalah seumpama buta, tuli dan bisu. Segala gerakannya itu datang dari Allah." 
Ada kitab yang disebut Suluk Sunan Bonang yang berbahasa prosa JawaTengah-an, tetapi isinya mengenai hal-hal agama islam. di mana kalimatnya agak terpengaruh oleh bahasa Arab. Besar kemungkinan kitab ini adalah berisi kumpulan atau himpunan catatan dari pelajaran-pelajaran yang pernah diberikan oleh Sunan Bonang semasa hidupnya kepada murid-muridnya. Di dalam dongeng-dongeng diceritakan,.bahwa pada suatu ketika pernah ada seorang pendeta hindu yang datang untuk mengajak berdebat dengan sunan bonang, bahkan kemudian pendeta hindu itupun akhirnya bertaubat serta menyatakan dirinya masuk ke dalam agama Islam. Pada masa hidupnya dikatakan bahwa Sunan Bonang itu pernah belajar ke Pasai. Sekembalinya dari Pasai, Sunan Bonang memasukkan pengaruh Islam ke dalam kalangan bangsawan dari keraton Majapahit, serta mempergunakan Demak sebagai tempat berkumpul bagi para murid-muridnya. Sunan Bonang perjuangannya diarahkan kepada menanamkan pengaruh ke dalam. Siasat dari Sunan Bonang adalah memberikan didikan Islam kepada Raden Patah putera dari Brawijaya V, dari kerajaan Majapahit, dan Menyediakan Demak sebagai tempat untuk mendirikan negara Islam. Adalah tampak bersifat politis dan Sunan Bonang rupanya berhasil dengan cita-citanya untuk mendirikan kerajaan Islam di Demak. Hanya sayang sekali harapan beliau agar supaya Demak dapat menjadi pusat agama Islam untuk selama-selamanya kiranya tidak berhasil.

Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban. Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha. Ia kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit. Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban. Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang. Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat 'cinta'('isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga.
Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah "Suluk Wijil" yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri.
Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang "Tombo Ati" adalah salah satu karya Sunan Bonang.
Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa ditafsirkan Sunan Bonang sebagai peperangan antara nafi (peniadaan) dan 'isbah (peneguhan.

Cewek 'hitam-Putih'

Sobat muslim, makhluk Alloh Ta’ala bernama cewek sering-kali diidentikkan dengan peri-laku yang manis. Makhluk yang lembut, ngemong, care, bisa ngatur keuangan, teliti, rapi, sabar, penuh perhitungan dan lain-lain dan sebagainya. Tapi, ternyata kalau merhatiin fakta sekarang kayaknya makin jarang aja tuh nemuin cewek yang kayak gitu.
Bener. Dilihat dari berita yang seliweran di berbagai media, baik cetak maupun elektronik, bahkan dari yang saya lihat dan dengar langsung makin sering didapetin kenyataan banyak cewek yang makin jauh dari kontrol agamanya (baca: Islam). Dari sekadar yang “remeh” sampai yang kelas berat kalau nggak mau dibilang sadis. Sekadar contoh aja nih ya, cewek-cewek yang ngomongnya asal ngejeplak nggak pake mikir makin gampang ditemuin. Lisannya nggak kekontrol. Seluruh isi kebun binatang sering banget jadi kosa kata yang enteng-enteng aja diucapin. Duh…duh…
Fakta yang lainnya yang sempet bikin saya kaget adalah makin seringnya saya jumpai cewek-cewek remaja yang merokok, di foodcourt atau bahkan di angkot. Saya pernah pergi ke sebuah obyek wisata di Jakarta Selatan beberapa waktu lalu untuk keperluan pembuatan film dokumenter, saya jumpai banyak remaja berseragam putih abu-abu yang lagi asyik santai-santai di pinggir danau. Beberapa di antaranya asyik ketawa-ketiwi sambil asyik ngerokok. Weleh! Weleh!
Cewek ngerokok bukan persoalan pantes atau nggak pantes, cocok atau nnggak cocok. Cowok ngerokok juga nggak banget! Apalagi cewek. Apa mereka nggak sadar ya? Kebiasaan mereka merokok nggak cuma bakal bikin rusak organ tubuh mereka, tapi juga sebenarnya  dengan begitu mereka membunuh generasi penerus bahkan sebelum mereka tumbuh! Bayangin aja kalo para calon ibu udah menye-saki rahim, organ reproduksi, dan darahnya dengan racun dari asap rokok, gimana nanti para janin bisa tumbuh dengan baik dan sehat? Yang dijaga baik-baik dengan sepenuh hati dan jiwa aja kadang ada persoalan, apalagi kalau calon ibunya nggak pedulian? Cepet tobat deh!
Fakta yang lebih menyeramkan lagi nih makin menjamur remaja cewek yang gampang obral cinta menjual keperawanannya. Setelah perut melendung baru deh panik, lalu perilaku sadis pun tega dilakukan demi menjaga nama baik. Sang jabang bayi dibunuh atau dibuang. Nau’dzubillahi min dzalik.

Cewek hitam vs cewek putih
Fakta “hitam” para remaja cewek seperti contoh di atas emang bikin sumpek perasaan dan pikiran. Bikin para orang tua dan guru jadi khawatir terus-terusan. Jaman emang udah edan! Begitu kata banyak orang.
Tapi, Alhamdulillah di tengah merebaknya fenomena ceweknya berkelakuan minus bahkan super minus, masih ada para remaja muslimah yang tampil dengan segala nilai plus mereka. Nilai minus versus nilai plus yang standarnya nggak cuma pantes nggak pantes menurut ukuran manusia yang gampang berubah di lain waktu, lain tempat, tapi yang valid pastinya menurut ukuran hukum syara, aturan Islam yang berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah.
Makin marak remaja muslimah yang pede memakai jilbab (baju longgar panjang, contoh: gamis) dan kerudung. Tutur kata juga dijaga sebaik mungkin. Berbakti ke ortu. Ngaji udah bagian aktivitas rutin yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Saling nasihat, saling memberi semangat untuk  bersegera melak-sanakan kebaikan dan tegas mengingatkan yang melakukan kesalahan menjadi bagian hidup mereka. Prestasi di sekolah juga lumayan, bahkan banyak yang juara. Itu semua bukan cuma karena dorongan pengen eksis, sok pamer diri, pengen dipuji, tapi lebih dari itu semuanya dilakukan semata karena dorongan keimanan, takut dosa, dan rindu masuk Surga. Karena Surga kan juga untuk remaja bukan cuma untuk yang tua-tua. Hahay!

“Hitam”nya cewek
Kelakuan minus para remaja cewek hadir bukan tanpa sebab. Karena nggak ada manusia yang lahir ke muka bumi dengan memikul dosa. Semua bayi itu suci. Berarti sebenarnya semua manusia dipotensikan Alloh Sang Maha Pencipta sebagai makhluk mulia. Nah, terus kenapa ya sekarang banyak cewek yang bertingkah minus?
Ada faktor internal dan eksternal yang bisa jadi penyubur jumlah cewek berkelakuan buruk.  Apa aja?
Faktor  internal. Pertama, malas. Hari gini pemandangan masjid dan surau bisa ditebak banyaknya diisi ibu-ibu sepuh, nini alias para nenek. Forum pengajian sepi dari para remaja. Alasannya: malezzz. Lalu berkilah: “Belajar agama nggak usah segitu-gitunya kali. Yang penting kan  hidup itu nggak ngerugiin orang lain” (backsound: berarti boleh ngerugiin diri-sendiri? Weleh! Enggak lah!). Juga ada yang bilang bahwa: “Belajar agama nambah beban. Pelajaran lain aja udah bikin badan cenat-cenut. Kakak mentornya kalau jelasin bikin ngantuk, bikin bĂȘte,” dan lain-lain yang sebenarnya semua itu cuma untuk nutupin rasa malas.
Kedua, nggak pede memulai kebaikan. Iri juga sih sama temen-temen yang berjilbab dan smart. Tapi, kalau ikutan mereka ngaji juga, entar dibilang sok alim lagi. Mendingan mundur aja deh. Wah, setitik pencerahan yang sempat datang akhirnya sirna cuma karena takut dibilang sok alim. Nggak pede untuk nerusin niat baik jadi tindakan. Malah tetep betah satu arah sama temen-temennya yang kelakuannya buruk. Tingkah minus nggak juga kehapus.
Ketiga, nggak tahu ajaran Islam. Ada lho yang kelakuannya nggak muslimah banget, bukan lantaran dia emang maunya kayak gitu. Tapi, yang dia tahu ya … cewek gaul, cewek masa kini emang kudu kayak gitu. Nah, untuk para cewek model gini butuh ada orang yang segera menunjuki. Sekali lagi mereka bukan nggak mau jadi cewek sholihah, tapi karena mereka nggak tahu cewek yang baik itu seperti apa dan gimana caranya.
Itu faktor internal. Terus faktor eksternal-nya apa aja ya? Nih, dia! Pertama, keluarga. Nggak bisa dipungkiri lingkungan di luar diri manusia terdekat dan yang paling pertama adalah keluarga, terutama ibunya. Gimana cara ortu membesarkan dan mendidik anak-anaknya pasti sangat berpengaruh terhadap perkem-bangan kepribadian si anak. Contoh konkrit nih. Saya punya teman yang nggak bisa lepas dari kata-kata kasar setiap berucap. Cerita punya cerita setelah saya punya kesempatan ngobrol sama dia, ternyata bapaknya dulu juga sering sekali berkata kasar kepada anak-anaknya dan orang lain di depan anak-anaknya. Waduh!
Kedua, lingkungan rumah dan pergaulan. Faktor yang ini juga nggak kalah penting dalam pembentukan kepribadian seorang anak manusia. Banyak kejadian seorang remaja dari keluarga baik-baik, ayah-ibunya orang-orang yang shalih ternyata bisa juga terjerumus perilaku yang dilarang agama; narkoba, free sex, dsb. Astaghfirullah! Ngeri banget tuh! Padahal remaja juga manusia yang juga mahkluk sosial, yang butuh bergaul dengan dunia luar. Pastinya nggak sesuai dengan fitrah kalau ortu ngurung anak di rumah, keluar cuma untuk sekolah. Tapi, kalau anak dibiarkan keluar rumah mengundang banyak potensi “racun” pemikiran yang bikin anak jadi liar dan kelakuan buruk jadi kebiasaan. Huuuffft! Jadi ortu jaman sekarang emang kudu jadi pengawas super ketat, super ekstra supaya nggak kecolongan.
Ketiga, sistem kapitalisme. Akidah sekularisme dari sistem Kapitalisme ini sudah  tertanam kuat di pikiran dan perasaan tiap insan termasuk kaum muslim bahwa agama (Islam) nggak boleh ikut campur masalah hidup manusia. Masalah sekolah alias pendidikan, cari uang, pergaulan, berpolitik, untuk ngedapetin hak kesehatan, keamanan, itu semua nggak boleh bawa-bawa agama. Agama cuma cocok untuk di mesjid, surau, majelis ta’lim. Agama cuma bisa dipake’ pas sholat, puasa, zakat, dan haji, hubungan anak ke ortu, murid ke guru. Selebihnya silakan manusia mikir gimana baiknya menurut versinya sendiri-sendiri. Kacau banget tuh!

Jadi cewek ‘Putih’ yuk!
Kita pastinya nggak mau hidup ini selamanya didominasi hal-hal minus,  yang buruk-buruk. Kita kudu mengubahnya dengan lebih dulu mengubah diri kita agar jadi sosok yang lebih baik, jadi sosok cewek yang sholihah.
Jalan menuju kebaikan udah fitrahnya bakal nggak gampang dilalui. Apalagi di tengah bombardir opini negatif tentang Islam sebagai ideologi dan aturan kehidupan sekarang ini. Islam seringkali dikambinghitamkan dan kaum muslimin dipojokkan. Di saat yang sama perilaku liberal diiklankan sebagai satu hal yang wajar. Bikin banyak cewek yang mulai sadar malah jadi nggak nyaman meneruskan perjalanan menuju kebaikan hakiki, kesholihan sejati.
Tapi, Sis…never give up! Ketika setitik kesadaran sudah mulai didapatkan segera cari teman yang bisa menguatkan untuk bisa konsisten belajar Islam. Jangan betah di lingkungan pergaulan yang lama. Bukan kita nggak setia kawan, tapi kita sebagai orang yang lebih dulu nyadar, kudu segera nyelametin diri supaya bisa nyelametin yang lain juga. Nggak tenggelam sama-sama.
Jangan sampai kesadaran yang mulai muncul dibiarkan, lalu layu sebelum berkem-bang. Bahaya! Kesempatan bisa jadi nggak datang dua kali. Dan, yang namanya ajal bukan wewenang kita untuk miliki selamanya. Ada Alloh yang Maha Pemilik Alam dan Manusia. Jadi mumpung nafas masih bisa kita hembuskan selama itu semangat memperbaiki diri harus kita miliki. Ayo sadar dan giat belajar Islam!
Hal lain yang nggak boleh kita lupa, Sis. Sebagai cewek, kitalah penentu pertama dan utama hitam-putihnya generasi selanjutnya. Ya iya dong. Sebagai cewek kan kita ditakdirkan Alloh untuk bisa hamil, melahirkan, lalu menyusui alias kita tuh calon ibu. Kebayang deh kalau calon ibunya minim pengetahuan agama, gimana bisa membekali anak-anaknya dengan agama? Kebayang juga kalo para calon ibu tingkahnya begajulan, gimana bisa menjadi contoh bagi anak-anaknya nanti berlaku santun dan sopan? Nggak deh.

dikutip dari gaulislam.com