Jumat, 31 Agustus 2012

Hakikat Cinta Nabi (2/3)

Setelah mengetahui lebih dalam kewajiban mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka permasalahan selanjutnya adalah bagaimana cinta terhadap beliau. Banyak kaum muslimin yang mengaku bahwa mereka cinta terhadap nabi mereka yang mulia ini, di antaranya kekecewaan mereka terhadap pelecehan atas nama beliau. Akan tetapi, apakah sebatas itu? Adakah tuntutan-tuntutan atau hal-hal yang menunjukkan kalau seorang muslim itu cinta terhadap nabi mereka? Bagaimanakah sebenarnya hakikat cinta itu?

2 Hakikat Cinta Rasulullah

Cinta pada Rasulullah merupakan bagian cinta kepada Allah. Cinta kepada
Allah menuntut konsekuensi mencintai semua yang Allah cinta. Dan Allah
mencintai nabi dan kekasihNya, Muhammad. Sehingga cinta kepada Rasulullah
merupakan cabang dan termasuk kecintaan kepada Allah.

Ibnul Qayyim menyatakan:

”Semua kecintaan dan pengagungan kepada manusia diperbolehkan hanya
karena ikut kepada kecintaan Allah dan pengagunganNya, seperti cinta
dan pengagungan kepada Rasulullah. Kecintaan tersebut merupakan kesempurnaan
mencintai dan mengagungkan dzat yang mengutusnya, karena umatnya mencintai
beliau karena Allah mencintainya. Merekapun mengagungkan dan memuliakan
beliau, karena Allah memuliakannya”. HREF="#foot117">12

Dengan demikian, cinta kepada Rasulullah mengharuskan kita mencontoh
dan bersikap sama dengan Rasulullah dalam segala hal yang dicintai
dan dibencinya. Dan diwujudkan dalam ittiba’ (meniru) beliau. Kita
mencintai semua yang Raulullah cintai, dan membenci semua yang beliau
benci, ridha dengan yang semua beliau ridhai dan marah terhadap semua
yang Rasulullah marah padanya, serta mengamalkan semua yang tuntutan
cinta dan benci tersebut dengan amal perbuatan. HREF="#foot118">13


Kecintaan dan pengagungan kepada Rasulullah, dapat diwujudkan dengan
hal-hal berikut :

Mencintai beliau diatas kecintaan kepada diri sendiri, keluarga, dan
seluruh manusia. Allah berfirman :

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang- orang mukmin dari diri
mereka sendiri (QS Al Ahzab : 6)

Juga sabda Rasulullah :

Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian, hingga menjadikan aku
lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia, HREF="#foot71">14

Sehingga demi yang dicintainya, seseorang dituntut siap mengorbankan
jiwa dan harta. Allah berfirman :

Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang badui yang
berdiam di sekitar mereka tidak turut menyertai Rasulullah (pergi
berperang), dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri
mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah, karena
mereka tidak ditimpa kehausan, kelaparan dan kepayahan pada jalan
Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang, membangkitkan
amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada
musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu
suatu amal shalih. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala
orang-orang yang berbuat baik. (QS At Taubat : 120).

Membenarkan semua yang diberitakan Nabi dari Allah, mentaati beliau
dalam semua perintahnya dan menjauhi segala larangannya, serta beribadah
sesuai dengan syari’atnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

”Yang wajib bagi orang semisal mereka mengetahui bahwa kecintaan
dan pengagungan kepada Rasulullah hanya bisa terwujud dengan membenarkan
seluruh berita beliau dari Allah, mentaati perintah dan mencontoh
beliau, serta mencintai dan loyal kepadanya tidak mendustakan ajaran
beliau dan (tidak) berbuat syirik dan bersikap berlebihan terhadap
beliau. HREF="#foot119">15

Ini juga merupakan konsekuensi dari persaksian syahadat ”asyhadu
anna muhammadan ‘abduhu wa Rasuluhu”. Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab di dalam kitab Al Ushuluts Tsalatsah menjelaskan,
makna syahadat “anna Muhammadan Rasulullah” adalah, mentaati
beliau dalam semua perintahnya, membenarkan semua beritanya dan menjauhi
semua larangannya, serta tidak beribadah kecuali dengan syari’atnya. HREF="#foot121">16

Melaksanakan semua konsekuensi dari cinta kepada Rasulullah, baik
berupa i’tikad, pernyataan ataupun amalan, sesuai dengan hak-hak Rasulullah
yang Allah wajibkan kepada hati, lisan dan anggota tubuh, sehingga
membenarkan kenabian, kerasulan dan seluruh ajaran beliau. lalu melaksanakan
kewajiban dengan segenap kemampuannya, berupa ketaatan, ketundukan
kepada perintahnya dan meneladani sunnahnya. Allah berfirman :

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa
yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS Al Hasyr
: 7).

Termasuk dalam hal ini, yaitu mengucapkan shalawat dan salam kepada
beliau, menolong dan membela beliau dari semua orang yang mengusik
dan mengganggunya, baik ketika beliau masih hidup atau setelah wafat,
dan berbicara kepada beliau dengan perkataan yang pantas, mengutamakan
pendapat dan pernyataan beliau dari selainnya.

Hilton, "Saya Masih Tahap Pemulihan"

SEGELINTIR bobotoh kerap mengait-ngaitkan prestasi Persib yang tidak mencapai target musim lalu salah satu faktornya disebabkan oleh absennya Hilton Moreira. Striker lincah asal Brasil tersebut terpaksa meninggalkan Persib pada awal leg kedua Liga Super Indonesia 2009-2010 sejak akhir Maret lalu untuk menjalani operasi lutut kanan di tanah kelahirannya, Sao Paulo, Brasil. Hilton mengalami robek ligamen lutut kanan pada saat Persib menjamu Persema Malang, (17/3) lalu.
Jelang musim kompetisi 2010-2011 ini, Hilton masih diharapkan bobotoh bisa bergabung kembali bersama pasukan "Pangeran Biru". Akan tetapi, bagaimana dengan kondisi terakhir striker berpostur 173 sentimeter itu?
Dalam surat elektronik yang dikirim kepada wartawan "PR" selama Juli dan Agustus, penyerang yang mengemas 15 gol itu mengakui kondisi lututnya sudah membaik pascaoperasi yang dilakukan pada awal April lalu.
"Aku masih terapi setiap hari pagi dan sore biar aku bisa sembuh total cepat. Kata dokter dari Brasil, bulan November kondisiku 100 persen lagi untuk main, aku mau kembali ke Persib lagi karena aku senang sekali tinggal di Bandung. Tetapi aku belum tahu, Persib masih mau aku main di Persib?," tutur pemilik nama lengkap Hilton Mauro Moreira itu.
Namun yang disayangkan, kompetisi LSI 2010-2011 mulai bergulir 26 September. Di lain pihak, Hilton baru pulih 100 persen pada November nanti sehingga kemungkinan bisa bergabung putaran kedua.
"Benar kondisiku bisa main bulan Oktober atau November, tapi bulan September aku sudah bisa latihan dengan pemain semua. Kalau Persib enggak mau seperti itu ya enggak ada masalah. Aku bisa nego dengan klub lain saja, karena ada tiga klub dari Indonesia sudah kontak sama aku tapi prioritasku Persib, tetapi aku enggak mau nunggu putaran dua. Terima kasih," ucapnya dalam surat yang diterima pada 8 Juli lalu.
Namun, pada Selasa 20 Juli 2010 lalu, lelaki kelahiran Pindamonhangaba Taubate, Brasil, 27 Februari 1981 itu meralat pernyataannya pada surat sebelumnya. "Aku baru periksa dokter di Brasil lagi ya. Katanya aku harus cari kondisi ideal sebelum aku balik main lagi. Aku minta tolong, kasih tahu Pak Haji (Umuh) putaran kedua aku siap masuk Persib lagi ya," tutur pemilik nomor punggung sepuluh itu.
Hilton sempat menanyakan pelatih baru Persib. Bahkan pelatih asing dari Serbia berkewarganegaraan Prancis, Daniel Darko Janackovic, langsung terpikat dengan permainan Hilton ketika melihat rekaman pertandingan Persib.
Meski pemain yang berkiprah selama 1.796 menit pada musim lalu itu sanggup untuk kembali berlaga pada leg kedua nanti, hal itu tergantung dengan keputusan pelatih. Saat ini, Janackovic memang terlihat getol bongkar pasang pemain untuk lini depan. Ia sudah memulangkan Rahmat Rivai dan akan kembali mendatangkan striker asing Senin ini.
Pemain yang sudah pasti menghuni posisi penyerang sudah dimandatkan kepada Airlangga Sucipto. Sementara itu, dua pemain asing, Cristian Gonzales dan Pablo Alejandro Frances masih bertahan dalam tahap seleksi. Selain itu, Rahmat Affandi (mantan Arema) pun tetap dipertahankan untuk mengikuti seleksi

Cerpen

Akhirnya aku kembali ke tempat ini. Aku tidak bisa menahan perasaanku untuk tidak menemuinya lagi. Aku hanya ingin melihatnya dari jarak yang agak jauh, dari tempat yang agak terlindung. Dari balik malam, dengan leluasa aku bisa melihatnya tertawa dan tersenyum --tawa dan senyum yang dibuat-buat-- di hadapan para tamu.

Tempat dia duduk menunggu tamu cukup terang bagi mataku, meski tempat itu hanya ditaburi cahaya merah yang redup. Aku masih bisa merasakan pancaran matanya yang pedih. Aku merasa dia sedang memperhatikan aku. Aku berusaha bersembunyi di balik kerumunan para pengunjung yang berseliweran di luar ruangan. Tapi sejenak aku ragu, apakah benar dia melihatku? Ah, jangan-jangan itu hanya perasaanku saja. Aku yakin dia kecewa dengan aku. Dia kecewa karena aku gagal membawanya pergi dari tempat ini.

Hampir setiap malam aku mengunjungi tempat ini hanya untuk melihatnya dari kegelapan dan memastikan dia baik-baik saja. Aku seperti mata-mata yang sedang mengintai mangsanya. Atau mungkin aku seorang pengecut yang tidak berani menunjukkan batang hidung setelah kegagalan yang menyakitkan hatiku. Atau bisa jadi aku telah menjadi pecundang dari kenyataan pahit ini.

Biasanya aku akan datang sekitar jam delapan malam. Aku memarkir motor di kegelapan dan berjalan perlahan menuju tempat dia biasa menunggu tamu. Jelas aku tidak akan berani masuk ke dalam ruangan yang pengab dengan asap rokok dan bau minuman itu. Aku terlanjur malu dengan dia. Makanya, aku hanya berani berdiri di luar, di dalam kegelapan, dengan tatapan mata yang sangat awas yang tertuju pada ruangan di mana dia duduk santai sambil mengepulkan asap rokoknya.

Seringkali aku dibakar api cemburu ketika ada lelaki yang menghampirinya dan merayunya. Api cemburu itu semakin menjadi-jadi ketika dia juga meladeni lelaki yang merayunya dengan senyum dan tawa. Dan hatiku benar-benar hangus ketika kulihat dia masuk ke dalam biliknya ditemani lelaki itu. Saat itu juga batok kepalaku dipenuhi berbagai pikiran-pikiran buruk. Ya, sudah jelas, di dalam bilik sederhana itu mereka akan bergulat, bergumul, dan saling terkam dalam dengus napas birahi.

Ah, sebenarnya tidak begitu. Itu hanya pikiran-pikiran burukku saja. Aku tahu dia perempuan lugu yang terjebak dalam situasi seperti itu. Semacam anak kijang yang masuk perangkap pemburu.

Aku merasa aku telah jatuh hati padanya. Kamu tahu, bagaimana proses jatuh hati itu kualami? Baiklah, akan kuceritakan untukmu. Saat itu aku diajak oleh kawan karibku datang ke tempat ini. Kawanku itu menemui langganannya. Sedang aku hanya bengong-bengong di ruangan sambil minum kopi. Seorang ibu paruh baya menghampiriku. Dengan mata genit ibu itu mengatakan padaku kenapa aku tidak masuk kamar? Aku bilang bahwa aku lagi ingin sendiri, lagi ingin menikmati suasana saja. Ibu itu mengatakan ada yang baru, masih belia, baru datang dari kampung. Ibu itu bilang usianya baru 15 tahun. Dalam hati aku tertarik juga dengan perkataan ibu itu. Wah, masih belia sekali? Aku jadi ingin tahu kayak apa perempuan yang dibilang belia itu? Ibu tua itu kemudian memanggil dia.

Sehabis mandi, ibu tua itu mengantar perempuan itu kepadaku. Dengan malu-malu perempuan ingusan itu duduk di sebelahku. Dia hanya diam dan tidak berkata-kata. Wajahnya manis dan memang masih bau kencur. Entah anak siapa yang disesatkan ke tempat seperti ini. Ibu tua itu menyuruhku segera mengajaknya masuk kamar, tentu dengan tarif khusus, lebih mahal dari biasanya.

Di dalam kamar, perempuan itu masih diam, tak banyak bicara. Dari wajah kekanak-kanakannya terpancar perasaan cemas dan keragu-raguan. Aku jadi iba melihat tingkahnya yang memelas itu. Aku segera mencegah saat dia hendak melucuti busananya. Dia bingung dengan tingkahku.

"Saya harus melayani tamu saya," jelasnya.

"Aku tak perlu dilayani. Aku hanya ingin ngobrol denganmu. Dan aku akan tetap membayar sesuai tarif yang telah disepakati," ujarku.

Aku menatap wajah yang lugu itu. Entah kenapa aku jadi tidak tega dan merasa simpati dengan dia. Mungkin aku terjebak pada pancaran matanya yang begitu diliputi kepolosan sekaligus kecemasan. Aku telah mengenal sejumlah perempuan yang bekerja seperti ini. Tapi dengan perempuan satu ini, aku merasakan dalam diriku bangkit suatu keinginan menjadi hero, ingin menyelamatkannya.

Aku mendekapkan kepalanya ke dadaku. Aku membelai-belai rambutnya yang sebahu. Tiba-tiba saja aku merasa menjadi seorang kakak yang ingin melindungi adiknya dari segala marabahaya.

"Mengapa kamu bisa berada di tempat seperti ini?" tanyaku lirih. "Seharusnya kamu menikmati masa-masa sekolahmu, seperti teman-temanmu yang lain.."

Perempuan itu diam dan menatapku lembut.

"Saya tidak tahu, Mas. Saya diajak oleh tante saya ke sini. Saya dijanjikan pekerjaan dengan gaji yang menggiurkan. Tapi ternyata saya dijebak di sini oleh tante saya sendiri."

Aku kaget mendengar pengakuannya yang memilukan itu. Diam-diam dalam hatiku, rasa kasihan perlahan menjelma rasa simpati dan keinginnan untuk mengasihinya.

"Kamu ingin pergi dari tempat ini?"

"Ya, jelas, Mas. Tapi bagaimana caranya saya bisa pergi dari sini?"

"Aku akan ngomong sama bosmu."

"Mustahil, Mas!"

"Mengapa mustahil?"

"Mas tidak paham situasi di sini. Sekali perempuan terjebak dalam tempat ini, maka seumur hidup akan berkubang di sini."

"Tidak. Aku akan menyelamatkanmu. Kamu harus melanjutkan sekolahmu. Dan kamu mesti cari kerja yang lebih bagus dari kerja begini."

Perempuan bau kencur itu menundukkan kepalanya. Matanya memancarkan harapan, harapan bagi sebuah kebebasan.

Aku cium keningnya. Aku bisikkan beberapa patah kata agar dia bersabar dan tabah. Aku ke luar dari bilik dengan perasaan gundah.

"Gimana, Mas? Bagus, kan?" Ibu paruh baya itu berdiri di depan pintu dan mengerlingkan mata genit ke arah mataku.

Tiba-tiba saja aku ingin muntah melihat tampang ibu genit itu.

"Aku ingin ngomong sama bosmu," ujarku dengan nada agak geram.

"Ada apa, Mas? Apa servisnya tidak memuaskan ya...? Wah, kalo gitu saya akan lapor ke bos."

"Jangan. Bukan masalah itu. Ada yang aku ingin bicarakan sama bosmu. Tolong panggil dia."

Perempuan paruh baya kepercayaan bos itu tergopoh-gopoh menemui bosnya. Tak berapa lama, dia muncul kembali mengiringi perempuan agak gembrot dengan wajah menyiratkan kelicikan.

"Ada apa, Mas? Apa dia tidak melayani Mas dengan baik?"

"Bukan masalah itu, Bu. Kira-kira kalau aku ingin mengajak dia keluar dari sini, gimana?"

Wajah perempuan gembrot yang licik itu seketika berubah curiga.

"Maksud Mas gimana?"

"Aku ingin mengajak dia pergi dari sini."

"Kalau begitu Mas harus menebusnya Rp 5 juta, gimana?"

Aku terkesiap. Gila benar si gembrot ini. Mengapa aku mesti menebusnya sebanyak itu? Bukankah setiap orang berhak memilih kebebasannya?

"Kenapa aku mesti menebus sebanyak itu? Dia bukan barang mati. Dia manusia yang memiliki kebebasannya," ujarku geram.

Si gembrot tersenyum sinis.

"Mas ini kayak tidak mengerti aja. Dia berada di bawah pengawasan dan tanggung jawab saya. Tantenya telah menitipkan dia pada saya."

"Kalau begitu, kamu tidak berhak menjual dia dengan mempekerjakan dia sebagai pelacur," ujarku semakin geram melihat tingkah si gembrot.

"Hidup makin sulit Mas. Semua orang perlu uang dan sekarang ini segala sesuatu diukur dengan uang. Begini saja Mas. Kalau Mas mau membawa dia, maka Mas sediakan uang Rp 5 juta. Itu saja."

Si gembrot sambil menggerutu pergi meninggalkan aku yang masih terbengong-bengong. Sejenak aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Aku pun pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan luka. Sepintas kulihat mata perempuan yang ingin kuselamatkan itu berkilat basah menatap kepergianku.

Beberapa hari kemudian aku berusaha mendapatkan uang sebanyak itu untuk menebus dia. Aku berusaha meminjam kepada kawan-kawanku. Namun usaha kerasku hanya berbuah kesia-siaan. Aku hanya bisa mengumpulkan Rp 2 juta. Aku kembali ke tempat itu dan mencoba tawar-menawar dengan si germo gembrot, tapi sia-sia belaka. Si gembrot tetap pada pendapatnya semula.

Aku merasa kecewa dengan diriku sediri. Aku tidak berdaya menyelamatkan dia. Aku tidak habis-habisnya mengutuki diriku sendiri, mengapa aku tidak berkesempatan jadi orang kaya.

Maka seperti saat ini, setiap malam aku hanya bisa menatap dia dari kegelapan malam. Sambil menahan hatiku yang hampir hangus dibakar cemburu, aku melihat dia bercengkerama dengan para tamu. Sepertinya dia bahagia dengan pekerjaan yang dijalaninya. Setiap melihat senyum dan tawanya, aku merasa bersalah sekaligus kecewa dengan diriku sendiri. Pada akhirnya aku hanya jadi pecundang.