Minggu, 10 April 2011

Gara-gara Cerpen

' Akh...!!! Borring ! Borring ! Borring !' Teriak Citra dari kamar tidurnya
  ' Kamu kenapa , Cit ?' Indah bingung sendiri dengan kelakuan Citra yang teriak teriak tanpa alasan.
  ' Gini , Dah. Gue baru aja beli novel. Tapi kok ceritanya soal cinta dan romance mulu. Padahal kamu tau sendiri, kan. 
  Gue gak suka sama yang begituan walaupun gue udah remaja.' Curhat Citra
  ' So, mau kamu apaan ?' Tanya Indah tidak mengerti maksud Citra.
  ' Mauku, ya.... mmmm....' Citra bingung mau jawab apa.
  ' Mauku ada cerpen persahabatan setiap harinya buat gue baca.' Sambung Citra
  ' Nyarinya dimana , Cit ? Kamu tau sendiri, kan kalau cerpen atau novel dominan bercerita tentang cinta atau  
  romance '
  ' Hmmm.....' Citra berpikir.
  ' Gue punya usul, nih.' Indah berjalan menuju meja belajar Citra dan mengambil sehelai kertas kosong dan pensil.
  ' Usul kamu apa ? lalu kertas kosong dan pensil ini buat apaan.' Citra menjadi bingung.
  ' Jadi, kita tukeran cerpen tiap hari. Judul dan isi cerpen tidak boleh bersifat SARA dan Pornografi. Cerpen harus 
  dibuat sendiri. So, sekarang kamu tulis cerpenmu sendiri.' Indah menyerahkan pensil dan kertas itu.
 ' Gue gak bisa nulis cerpen, Dah. Terlebih lagi waktu pelajaran membuat cerpen gue gak ikut.' Citra mulai ngeles.
  ' Ah, kamu ini. Bisanya cuman ngeles. Sini, biar aku ajarin. Kamu gak perlu ngikutin apa kata guru bahasa mengenai 
  kerangka cerita dan bla...bla...bla.' Indah mendekati Citra yang awalnya Indah mau ninggalin Citra sendiri biar Citra
  bisa fokus pada cerpennya.
  ' Lalu, gimana dong.' Citra jadi tambah bingung.
  ' Yang pertama, tulis satu kata yang benar-benar lagi ada di kepala kamu.' Jelas Indah. Citrapun menulis satu kata
  yang benar-benar ada di kepalanya, yaitu Bingung.
  ' Kok, bingung ?' Tanya Indah tidak mengerti apa yang ada di pikiran Citra.
  ' Soalnya, gue lagi bingung gara-gara mama dan papa bertengkar mulu.' Jelas Citra
  ' Oh, gitu ya. Sorry ya, Cit. Gue gak tau.' Indah merasa bersalah.
  ' Udah, gak usah dipikirin. Sekarang kita lanjut.' Citra berusaha mengalihkan pembicaraan.
  ' Yang kedua, cari jalan cerita yang bakalan kamu tulis. Tapi, berhubungan dengan kata pertama. Mulai lah dari  aktivitas kamu hari ini atau curhat kamu. Saat nulis, kamu nggak perlu mikirin masalah EYD, kerangka cerita dan lain-lain biar imajinasi kamu bisa bebas ' Terang Indah lagi.
  ' Lalu..??' Citra gak sabaran lagi menunggu kelanjutannya.
  ' Udah. Cuman gitu aja. Sekarang kamu nulis, ya. Aku mau pulang. Assalamualaikum.' Salam Indah si cewek 
  berkerudung.
  ' Walaikumsalam.'

* * *

 Di sekolah...
  ' Gimana, Cit. Udah jadi cerpennya ?' Tanya Citra
  ' Udah, nih. ' Citra menyerahkan buku tulis yang di dalamnya ada cerpen berjudul ' Kenapa ayah dan bunda
  bertengkar.'
  ' O, ya Cit. Cerpenku ada di bawah mejaku. Jadi, tolong kamu letakkan buku ini ke laciku sekaligus kamu bisa ngambil
  cerpenku berupa buku tulis juga, ya. Sorry, aku jadi nyuruh-nyuruh kamu, soalnya bentar lagi ada rapat osis. Itu ada
  Adam ( ketua osis ) memanggilku. Aku duluan, ya Cit.' Indah pergi bersama Adam menuju ruang osis.
  Citra pergi dengan hati jengkel. Karena dia nggak suka Indah lebih dekat dengan orang lain. Baik cowok maupun  
  cewek.
  Di rumah....
  ' Untuk hari ini, aku bakalan buat cerpen yang menggambarkan kejengkelanku terhadap Indah dan Adam.' Citra berbisik di dalam hati.
  Ketika mau tidur, Citra baru saja ingat terhadap cerpen buatan Indah. Dan untuk hari ini judulnya adalah
  ' Persahabatan Oleh Cerpen.'
  ' Hmmm.... bagus juga. ' Komentar Citra lalu melirik ke arah jam.
  ' Sudah jam 10. Aku mau tidur dulu, ah.' Citra membaringkan tubuhnya di kasur dan tertidur.
Keesokan harinya sepulang sekolah, papa dan mamanya Citra pulang lebih cepat. Selain itu, mereka juga minta maaf atas kesalahan mereka karena mereka tidak perhatian lagi dengan Citra. Dan mulai hari inilah  papa dan mamanya Citra tidak lagi bertengkar, malah menjadi harmonis lagi sama seperti dulu.
  Dikamar, Citra menuangkan kebahagiannya di cerpen buatannya sendiri untuk Indah. Untuk hari ini judulnya ' Kembalinya Papa dan Mama Kepadaku'

* * *

  Hari ini, Citra dan Indah lagi makan siang di kantin. Tapi, tiba - tiba Adam datang dan bergabung dengan kami.
  ' Huh, kenapa , sih cowok ini datang.' Bisik Citra dalam hati dan hanya cemberut.
  ' O ya, Cit. Kamu belum taukan ?' Indah membuka pembicaraan di antara mereka.
  ' Tau apa ? ' Citra penasaran.
  ' Kalau Adam ini kakak sepupuku. Jadi, kamu gak perlu khawatir kalau aku dekat-dekat ama dia.' Indah tersenyum.  
  Adam pun ikut tersenyum dengan renyah. Tapi, dalam benak Citra, dia penasaran kenapa Indah tau. Padahal Citra
  nggak pernah ceritain masalah dia jengkel dengan kedekatan Adam dan Indah. Tapi, Citra hanya ingin diam saja.

mencoba Mencintai setelah Dihianati

Dibawah pohon yang rindang,semilir angin yang sejuk seakan menyapa setiap orang yang berada di halaman sekolah SMAN 2 Surabaya. Di bawah pohon itu terlihat seorang gadis yang duduk termenung dengan memeluk sebuah buku diary di tangan.
Bingung…. Itulah satu kata yang ku rasakan saat ini. Aku heran dengan perubahan sikap Chandra yang akhir-akhir ini berubah secara drastis, aku tahu, aku masih sayang dan mencintainya. Tapi apakah aku harus menerima dia kembali, setelah apa yang di lakukannya terhadap aku? Dia mencampakan aku begitu saja tanpa alasan yang tepat. Sakit hatiku?

Itulah kalimat yang di tuliskan Novita ke dalam diarynya, buku usang yang telah menjadi teman, diakalah dia lagi susah dan senang. Selain sahabatnya, diary itu yang selalu menemaninya.

“Vita…….kok ngelamun aja sich?” teriak Jesicka dan Mona sahabatnya seolah mereka senang membuat sahabatnya itu kaget.

“Eh…. Kalian? Bikin kaget aja?”

“Kamu kenapa Vit, masih pagi udah ngelamun aja?” Tanya Jesicha dan Mona.
“Chamdra Jes?” Sahut Vita.

“Kenapa dia, apa dia telah melakukan sesuatu terhadap kamu?” Tanya mona yang geram ketika mendengan nama Chandra.

“Gak kenapa-napa kok,? Kemarin dia telpon aku dan minta balikan lagi sama aku? Jawab Vita.

“masih brani juga tu anak? Biar entar aku kasih pelajaran sama si Chandra itu?” Ucap Mona yang tomboy namun cantik.

“Sekarang terserah kamu, aku sebagai sahabat cuman ngingatin aja? Jangan mudah termakan dengan rayuan gombalnya, kamu ingatkan, apa yang telah dilakukan dia terhadap kamu?” Tegas Jesicka.

“Iya, aku sadar akan hal itu?” jawab Vita.

TEEEEET……………..                                                                                   

Bel masuk kelas membuat percakapan mereka terhenti

“Dah bel masuk Vit, masuk yuk?” ucap Jesicka.

“Oke, ayo?”

***

Keesokan harinya, Pagi benar Chandra datang ke sekolah, bermaksud untuk menemui Vita, karena dia tahu Vita pasti datang lebih awal seperti biasanya. Ternyata dugaan Chandra benar.

“Vita………..” Teriak Chandra berlari menghampiri Vita.

Vita yang melihat Chandra, langsung mempercepat langkahnya untuk menghindari Chandra.

“Vit…. Tunggu vit” Teriak Chandra namun Vita semakin jauh dan masuk ke kelasnya.

Tiga jam setelah jam pelajaran selesai, Vita bersama ke dua temannya langsung menuju Halte Bus. Di tengah perjalanan, terdengar teriakkan Chandra yang berjalan menghampiri mereka.

“Hai….. semua” sapa Chandra. Namun, Vita tidak menjawab sapa Chandra.

“Mau apa kamu ke sini?, masih brani juga kamu, setelah apa yang kamu perbuat terhadap Vita” Tanya Mona yang geram melihat Chandra.

“SSStt… sudah-sudah Mona. Mau apa kamu menemui akau, bukannya udah ada orang yang lebih sayang dan sempurna buat kamu? Ataukah kamu sudah mencampakakan dia, seperti yang kamu lakukan kepada diriku?” Tanya Vita
“ Sebelumnya aku minta maaf Vit, aku tahu akau salah, aku tahu akau telah mencampakakan kamu, aku menyesali semuanya Vit.  Aku menemui kamu hanya pengen balik lagi sama kamu.” Ucap Chandra berusaha untuk meyakinkan Vita.

“ Chandra aku memang amat sangat sayang sama kamu, tapi itu dulu?, Hatiku terlalu sakit untuk mengenang semuanya, kamu tahu berapa lama aku menahan penderitaan ini?, Kamu gak tahu kan?,aku bukan wanita yang lemah, yang bisa kamu permainkan persaannya, tanpa satu kata kamu meninggalkan aku begitu saja. Sekarang  hatiku sudah beku untukmu Chan.

Chandra hanya diam terpaku, ketika mendengar kata-kata Vita yang begitu menyentuh, diamenyesali semua sikapnya, dia tidak menyangka akan terjadi seperti ini.

Dengan hati yang hancur Vita pun pergi meninggalkan Chandra.

“Vita…….. aku akan melakukan apa saja, biar kamu percaya bahwa aku sudah berubah”. Teriak Chandra. Namun Vita semakin jauh dari pandangannya.

****

Seminnggu kemudian….

Vita bingung,apakah Vita menerima atau menolak ajakkan Chandra untuk menjadi pacarannya lagi. Tapi disatu sisi, Vita takut dihianati lagi…

TEEEET…………..

Belum selesai Vita menulis diarynya, terdengar suara Bel rumah. Vita yang mendengar bel itu, dia langsung bergegegas keluar dari kamarnya untuk membukanya.

“ Eh kalian…. Ayo masuk?” Ajak Vita.

“Gini Vit, kami datang kesini,ingin membicarakan tentang hubungan kamu sama Chandra?” Ucap Jesicka.

“Iya Vit, kemarin Chandra datang ke rumahku dan dia menjelaskan semuanya, apa yang sudah dia lakukan ke kamu, sudah melebihi batas. Tapi dia telah menyesali semuanya?” Tambah Mona.

“Dibayar berapa kalian sama dia?, Aku kecewa tau nggak sama kalian?” Vita  yang kesal dengan sikap ke dua sahabatnya dia langsung pergi meningalkan mereka.

“Vit… Vita…. Tunggu!”

Vita yang mendengar suara itu, dia langsung menghentikan langkahnya, karena dia merasa aneh dengan suara itu.

“Vit, dengarin dulu penjelasanku?” ucap Chandra yang baru datang.

“Aku gak mau dengar apa-apa dari mulut kamu, dasar tukang gombal, dulu aku memang tertipu mencintaimu lagi.” Jawab Vita. Dengan sangat terpaksa Vita menyuruh mereka untuk pergi.

“Apa yang harus aku lakukan biar kamu percaya Vita, Jika kamu ingin bukti, aku akan melekukannya ???” teriak Chandra dari luar kamarnya.

Vita yang hanya mendengarnya dari dalam kamar, hanya bisa menangis karena hati kecilnya masih mnecintai Chandra.

Mona dan Jesicka yang melihat keadaan kedua sahabatnya hanya bisa terdiam. Tanpa sepengetahuan Vita,  Mona, Jesicka dan Chandra mengatur rencana untuk meluluhkan hatinya Vita.

Dua jam kemudian setela mereka pergi, Terdengar hpnya bunyi, ada SMS masuk tertulis nama Mona sahabatnya. Dengan kilat vita langsung membukanya.

- Kamu mungkin gak percaya apa yang Chandra lakukan sekarang, kamu mungkin puas dengan keadaannya yang sekarang. aku gak nyangka, kamu sejahat ini Vit?, kamu boleh datang ke alamat ini -

Vita yang tidak percaya, dia d telpon balik mereka, namun tak ada satupun yang mengangkat Hp mereka. Vita yang panik dengan SMS dari sahabatnya, dia langsung menuju ke alamat Klinik yang diberikan oleh sahabantnya tadi.

Sejam kemudian Vitapun tiba di Klinik.

“Vita…..akhirnya kamu datang juga” tariak Mona yang sudah lama menunggu.

“Apa yang terjadi Mona?” Tanya Vita.

Mona yang tidak menjawabnya menambah rasa khwatir Vita, merekapun langsung menuju ke kamar  yang merwat Chandra.

Vita sangat terkejut melihat keadaan orang yang pernah di cintainya. Kepala, kaki dan tangannya yang dilingkar dengan kain kasa. Vitapun langsung menghampirinya.

“Kenapa kamu bisa sampai kayak gini?” tanya Vita yang masih tetap menatap wajah Chandra.

“Aku minta maaf, sebenarnya aku juga sangat merindukanmu, aku mencintaimu Chand?”

Chandra hanya diam dan menutup matanya rapat-rapat, dia berusaha untuk membuat keadaannya tidak terlihat seperti sandiwara. Sementara Vita masih terus berbicara pada Chandra, Chandra langsung bangun dan memeluknya.

“Vita aku mencintaimu, apapun akan aku lakukan biar kamu percaya” ucpa Chandra.

“Iya, aku percaya sama kamu, tapi kamu harus janji nggak akan ngulangin hal nekat kaya gini?’ Jawab Vita.

“Vita maukah kamu menjadi pacarku?” Tanya Chandra.

“Iya, aku mau jadi pacarmu lagi? Jawab Vita.
Dengan senang Chandra pun bangkit dari tempat tidurnya dan lompat-lompat sampai lupa bahwa mereka lagi bersandiwara untuk meluluhkan hatinya Vita. Vita yang melihat keadaan Chandra dia langsung marah dan pergi meninggalkan mereka semua karena merasa mereka telah menipunya.

“Vita….tunggu Vit!” cegah Chandra.

“Mau jelasin apa lagi sich?” Jawab Vita.

“ Aku tau apa yang aku lakukan ini konyol, tapi jika kamu mau bukti aku akan lakukan biar kamu puas. Ucap Chandra.

Chandra pun berlari keluar Klinik dan membuktikan bahwa dia tidak main-main dengan perkataannya.

“Chand…..aku juga mencintai kamu?” teriak Vita.

Chandra menghentikan langkahnya dan lari menghampiri Vita. Mereka berduapun saling perpelukan dengan erat tanpa menghiraukan keadaan di sekitar mereka. Kedua sahabatnya hanya bisa tersenyum dan berharap cinta mereka akan tetap terjaga selamanya.

Tak Seharusnya Kau Lukai Aku....

Tak seharusnya kau lukai hatiku, tak seharusnya kau menyakiti aku. Kau begitu tega melakukan itu padaku tapi tidak dengan aku yang masih terdiam dalam sepinya waktu.
Mengapa harus aku yang kau lukai andai  kau tak cinta jangan pernah kau ucapkan cinta bila kau berniat mematahkan hatinya. Aku tak bisa menjaga hatiku saat aku terlanjur menyayangimu.

***

Masih menanti dalam ketidak pastian aku tuliskan kata walau tanpa makna, aku tau kalau suatu saat cintaku akan patah dan aku tau bila suatu saat aku harus sendiri tanpa ada bayanganmu lagi. Tapi tak seharusnya kau lukai aku dengan sikapmu. Tak ada seorang wanita pun yang ingin hatinya terluka dan tak ada seorang wanita pun yang ingin menangis kalau tidak tersentuh perasaannya. Haruskah ku katakan kalau aku tak ingin kau sakiti seharusnya kau memahami semua itu. Aku sadar hubungan kita memang kurang baik, semua itu terjadi karna kesalah pahaman saja. Aku tau kau marah padaku, tapi pernahkah kau tau aku telah terluka saat aku tau kau mencintai gadis lain bukan aku. Aku menangis saat aku tau hal itu tapi aku berusah tegar dihadapan sahabatku, aku berusaha tak meneteskan air mataku karna aku takut aku kan terlihat rapuh dihadapan Abi. Saat itu aku bagaikan ilalang yang rapuh dengan tangkai yang buram dan usang penderitaan itu tak berhenti saat debu jalanan menerpa tangkaiku yang usang. Aku berusaha bertahan meski luka dan perih itu mulai ku rasakan.

***

Aku tersenyum dihadapan Abi, mungkin Fabian telah menemukan cintanya, gadis itu mungkin seseorang yang beruntung bisa mendapatkan cintanya Fabian. Sementara aku bukan serumpun mawar yang indah aku hanya ilalang yang rapuh, jadi wajar saja kalau dia memilih voni gadis yang sangat  cantik dan mungkin dia yang terbaik untuk Fabian bukan aku. Abi hanya melihat seraut kesedihan diwajahku, ia mencoba menenangkan hatiku, walau aku tau itu mungkin tak kan mudah mencairkan hatiku yang terluka. Tanpa ada kata yang tertinggal Fabian pergi dariku, itu yang paling membuat aku sakit karna dia tak meninggalkan sepatah kata yang tertinggal untukku. Semula aku tak percaya ia lakukan itu padaku tapi gadis yang bernama voni telah menemukan jawaban akhir dari kisah antara aku dan Fabian.

***

Sudah hampir 1 bulan aku tak melihat Fabian lagi setelah pertengkaran itu terjadi, dia pergi dariku disaat aku mulai rapuh. Hanya ada Abi yang selalu menenangkan gundah dihatiku, mungkin abi lebih dewasa dari Fabian sehingga dia mengerti tentang hatiku. Abi adalah sahabat Fabian dia sengaja menutupi perasaannya padaku saat ia tau kalau aku mencintai Fabian, tapi dia berusaha menjadi sahabatku, menasehatiku disaat aku salah dan ikut merasakan bila aku terluka itulah abi.

Salah kah aku bila suatu saat aku menemukan cinta yang lain? Walau bukan bersama Fabian, dan salahkah aku bila suatu hari nanti aku benar-benar tak ada lagi untuk Fabian selamanya…

Cinta Untuk Sahabat

Ini adalah hari pertama Ima dan Dea masuk sekolah. Dea adalah orang pertama yang Ima kenal. Mereka sering jalan berdua dan saling bercanda. Setelah beberapa hari Ima bareng dengan Dea Ima berbicara dengan Dea”Dea kamu mau gk jadi sahabat aku.?’’ Tanya Ima sambil menatap wajah Dea.” Pastinya mau donk...kan  kamu soulmate ku. ”jawab Dea.”asyik.....sekrang Dea menjadi sahabat ku.!!”kata Bisma sambil kegirangan.Merekapun mengisi hari-harinya dengan kegembiraan.Ima dan Dea adalah sahabat yg tdk bisa di pisahkan karna mereka adalah sahabat sejati sampai kapanpun dan di manapun.

Hari,bulan dan tahun mulai berlalu mereka lebih mengerti apa arti sahabat yang sebenarnya.

9  tahun kemudian.

Ima dan Dea sudah beranjak ke kelas 6 SD,sampai sekarang Ima dan Dea masih bersahabatan. Mereka berdua diterima di SMP 1 jakarta.Di sekolah yang baru ini mereka berdua  mempunyai sahabat baru nama nya Sasa.Sasa adalah orang yag sangat di sayang oleh Dea karena Sasa baik dan bisa menjaga rahasia orang. Setelah pulang sekolah Dea dan Sasa curhat bareng di rumah Dea. ”Sasa gw pengen curhat ni.”kata Dea.”emang lo mau curhat apa , ayo donk cerita?’’. Tanya Sasa sambil menggeret tangan Dea agar segera cerita.”lo tau gak sih gw tu suka sama Ima sebenernya gw suka ma Ima tu sejak gw TK tapi gw gk berani untuk mengungkapkan

Perasaan gw.”kata Dea.”apa,lo suka ma Ima?”Tanya Sasa.”iya gw suka banget ma Ima emangnya knp?”Dea balik bertanya.” Ah gk papa koq.”kata Sasa yg sebener ny juga suka ma Ima. Hatinya sakit ketika Sasa mendengar kata Dea yg ternyata Dea suka ma Ima. Setelah mereka saling curhat bareng ,Sasa pulang dari rumah Dea. Sesampainya di rumah, Sasa pergi kekamar sambil menangis”kenapa,setiap gw  mencintai seseorang pasti sudah ada yang mencintainya dan knp yg mencintai Ima adalah sahabat gw sendiri ,kenapa.?'Kata Sasa sambil melihat foto Ima.Hatinya Sasa sangat sakit.

Malam telah larut seiring pergeseran rembulan ke ufuk barat.Sasa pun masuk sekolah bersama dengan 2 sahabatnya yg setia menemaninya setiap saat.”sa,kenapa lo nglamun, ada masalah apa?”Tanya Ima.

“Gw gk papa koq.”jawab Sasa singkat. Sasa terus menyimpan rasa sakit hati yg di deritanya. Dea dan Ima pergi berdua ke kantin,mereka berdua saling bercanda dan saling bertatap muka. Tanpa disadari oleh Dea dan Ima ternyata Sasa mengintip Dea dan Ima yg sedang bertatap muka dan bercanda di sudut kantin. ”Apapun yang terjadi gw gak boleh suka ma Ima karna Ima udah milik Dea,dan Dea adalah sahabat gw. Gw gak boleh ngianatin sahabat gw sendiri. ”Kata Sasa yg terus melihat Dea dan Ima. Sasapun memilih pergi meninggalkan kantin dari

Pada hati Sasa terus-terusan sakit. Walaupun Sasa harus merasakan sakit yang mendalam ,Sasa tetap menjadi sahabat Ima dan Dea, sampai mereka masuk ke SMA dan kuliah. Yang pada akir nya Ima mengajak Dea untuk pergi ke sebuah restoran terkenal di Jakarta dan tanpa di ketahiu oleh Sasa. Ima mengajak Dea ke restoran karena Ima ingin membicarakan sesuatu dengan Dea. Sambil menikmati lagu hening, Ima mengatakan”Dea sebenernya.. Gw memendam rasa ini sejak kita  pertama ketemu tpi gw belum berani untuk mengungkapkan perasaan gw karna gw merasa klo gw masih sangat kecil.”.kata Ima sambil memegang tangan Dea.”maksud lo apa ma, gw gak ngerti deh. ”Tanya Dea sambil berfikir.” Gw.gw suka sama lo, mau nggak lo jadi pacar gw?”. Ima sambil mengatakan dengan kata yg patah-patah.” Ima sebenernya gw juga suka ma lo,gw juga suka sejak kita kenalan”jawab Dea.” Jadi lo mau nggak terima cinta gw.?   

“Klo gitu gw mau deh.”sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.’’ Sekarang lo mau nggak dansa ma gw?”Tanya Ima sambil mengulurkan tangannya di depan Dea untuk mengajak dansa bersama Dea.lalu Dea mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka berdua sangat mesra dan romantis. Semua orang menatap hanya pada Ima dan Dea.

Keesokan harinya Dea di antar dengan Ima naik

Mobil  kesayangan Ima. Sasa terkejut ketika melihat Dea di antar oleh Ima dan memegang tangan Ima. Saat istirahat Dea bilang sama Sasa” sa lo tau nggak klo tadi malem gw ma Ima tu dah jadian.”kata Dea dengan hati yang  senang.”apa, lo dah jadian?”Tanya Sasa.

” Iya gw dah jadian pas gw jadian,lo tau gak, gw tu di ajak dansa ma dia. ”Jawab Dea.” Sebentar ya gw mau ke toilet dulu.”kata Sasa sambil lari pergi ke toilet.

Sasa langsung menagis Karena mendengar bahwa Ima dan Dea sudah jadian.

” Ya tuhan cobaan apa lagi yang kau berikan padaku sekarang Ima dan Dea sudah jadian,kenapa semuanya harus begini aku gak kuat melihat mereka berdua bersama,bergandengan tangan,dan bertatap muka.”kata Sasa sambil menangis histeris. Dea datang untuk melihat Sasa,Sasa langsung mengusap air mata kesedihannya dengan bajunya. ”Lo kenapa nagis sa.?”Tanya Dea sambil menatap wajah Sasa. ”Gw gak papa kok, gw habis cuci muka ja...” jawab Sasa sambil mengelap mukanya yang basah oleh air mata nya itu. ”Bener lo gak papa.?”Tanya nya lagi.”bener gw gak papa, gw ke kelas dulu ya”.

Setelah pulang sekolah Sasa langsung pulang dan pergi ke kamarnya.Ia menutup pintu kamarnya dengan kasar dan keras. Sasa negobrak abrik seisi kamarnya  sambil menangis dan merasakan kecemburuan nya dengan Dea.Tapi Sasa harus rela

Karena Ima dan Dea merupakan sahabatnya sendiri.  3 tahun telah berlalu hingga Ima. Dea,dan Sasa sudah menyelesaikan kuliahnya. Ima ingin hubungannya dengan Dea semakin  serius. Akirnya Dea,dan Ima memilih untuk menikah .

Tetapi sebelum Ima dan Dea menikah ternyata masalah besar telah menyelimuti Ima dan Dea. Dea tertabrak bus hingga matanya Dea sudah tidak berfungsi lagi atau buta. Dea harus di bawa ke rumah sakit.Sasa menengok keadaan Dea,air mata Sasa mulai berjatuhan  melihat kondisi Dea yang buta itu.”Dea kenapa kamu bisa begini kenapa,Dea ku mohon jangan tinggalin gw ma Ima.”kata Sasa sambil menatap wajah Dea yang sedang pingsan di tempat tidur. 

Dea terbangun dari pingsan nya itu. ”Ima,Ima,Ima”kata Dea sambil memanggil kekasihnya.”Dea kamu udah sadar,ada apa kamu manggil aku.?”Tanya Ima.” Kenapa semuanya menjadi gelap sekali,kenapa?”.tanya Dea.”Dea sebenernya kamu,kamu udah gak bisa ngliat lagi, kamu buta Dea.”kata Ima sambil terpatah-patah.”apa nggak mungkin,gw tu nggak buta  gw masih bisa ngelihat lagi kok..?”.   “ sayang kamu emang nggak buta  tapi itu dulu..”.    “Apa jadi aku bener-bener buta..”kata Dea sambil menangisi keadaan nya yang buta itu.’’sekarang kamu boleh tinggalin aku kok ma.”.   “tapi kenapa aku harus tinggalin kamu.?”    “pasti kamu  udah  gak mau lagi ma aku dan pasti kamu udah nggak cinta lagi ma aku karna aku nggak akan dan nggak pernah bisa liat lagi, ya

Kan ? .”Tanya Dea.Jawab Ima“sungguh hanyalah dirimu yang aku cintai dan sungguh ku kan di sisimu hingga ku mati..”kata Ima sambil memegang erat tangan Dea dan menatap wajah Dea.Setelah mendengar perkataan Ima tadi Sasa merasa bahwa Ima sangat sanyang dan cinta... ma Dea dan akirnya Sasa pulang untuk beristirahat. Karna kebanyakan mikirin Dea dan Ima ,badan Sasa menjadi lemas karena memikirkan percintaan Ima dan Dea yang begitu kuat. Dan akirnya Sasa terbaring di rumah sakit yang sama dengan Dea tapi berbeda ruang.Keadaan Sasa mulai menurun. Ternyata Sasa menderita tumor otak dan Sasa tidak mempunyai waktu lama lagi. Kondisi Sasa semakin menurun dan menurun,Sasa menyempatkan  untuk membuat surat untuk sahabat setianya.

”Oh ya mah jika aku sudah nggak ada bolehkah mataku ini kusumbangkan ke Dea,satu lagi tolong berikan surat yang Sasa tulis ini ke Dea dan Ima ya mah ” kata Sasa sambil memberikan surat itu ke mama Sasa.” Nak kamu nggak boleh bicara seperti itu nak..”kata mama Sasa sambil mengelus Sasa.Setelah beberapa saat dokter mengambil mata Sasa untuk di sumbangkan ke Dea”dok,silahkan ambil mata saya”kata Sasa.”kamu rela nak untuk di ambil matanya untuk temanmu sendiri,tapi nanti kamu udah nggak bisa hidup lagi.”kata dokter.”saya rela dok mempertaruhkan nyawa saya dan mata saya untuk sahabat saya sendiri karena saya sangat sanyang sekali sama sahabat saya.”    “jangan nagis dong mah Sasa sedih kalo mama nangis,dah mah relain aja aku nggak akan melupakan kebaikan mama...selamat tinggal ma....”kata Sasa sambil menuju ruang operasi. ”Sasa jangan tinggalin mama nak...jangan tinggalin mama sendirian...” sambil menangis karena Sasa meninggalkannya sendirian. Hari Ini adalah terakir kalinya Sasa menghirup udara,sekarang Sasa telah tiada,Sasa telah meninggalkan 2 sahabatnya itu.

Pagi telah datang.Akirnya Dea bisa melihat lagi berkat mata yang di sumbangkan oleh Sasa. Akirnya Dea dan Ima memutuskan untuk menikah. Sebelum menikah mama Sasa memberikan surat seperti apa yang Sasa inginkan untuk memberikan surat itu kepada Dea dan Ima. Dea dan Ima membaca surat itu.

“Dea dan Ima makasih buat semua yang telah kamu berikan buat aku. Kalian adalah sahabat terbaikku,kalian adalh hidupku jika aku ada masalah kalian pasti mau membantuku. Terimakasih atas kebaikanmu,aku gak  akan melupakanmu. Satu lagi Ima sebenernya aku suka ma kamu tapi aku gak berani ngungkapin semuanya karna aku tau kalau Dea lebih membutuhkanmu dan aku nggak mau persahabatan kita rusak dan aku

Nggak mau klo Dea salah paham ma aku,karna aku suka ma Ima ,aku lakukan itu semua karna aku sangat sayang ma Dea. Sebenernya hatiku sakit ketika kamu memegang tangan Dea,bertatap muka dengan Dea,berbincang-bincang dengan Dea. Hatiku sangat sakit terutama waktu Dea carita bahwa kamu dan Dea sudah jadian.Aku sekarang bisa membalas kebaikan kalian berdua dengan menyumbang mataku ini ke tubuh Dea. Sekarang aku sadar bahwa cinta kalian begitu kuat,maka dari itu aku rela mati dan kehilangan mataku untukmu sahabatku. Tapi walaupun aku dah nnggak ada aku masih bisa lihat ima dengan menyumbangkan mataku ke tubuh Dea dan aku bisa melihat kisah cinta kalian setiap harinya.sekali lagi makasih buat sahabat sejatiku..aku nggak akan melupakan kebaikan kalian berdua..selamat tinggal”.

Setelah membaca surat dari Sasa itu Dea dan Ima sadar bahwa di balik kabahagiaan yang mereka alami ternyata ada kecemburuan dan sakit hati yang mendalam yang di rasakan oleh sahabatnya sendiri,Sasa.

5 Bulan kemudian

Yang pada akirnya Ima dan Dea sudah menikah.

Ima dan Dea mempunyai seorang anak cewek yang mereka beri nama Sasa,agar mereka terus ingat dengan Sasa sahabatnya yang kini sudah tiada. Keluarga Dea dan Ima sekarang semakin langgeng dan kekuatan cinta mereka berdua semakin kuat hingga waktu yang memisahkan mereka berdua.

Temanku tak Boleh Berbohong

Pada suatu hari Sopie bermain ke rumah Moren, di sana dia disambut Moren dengan wajah yang cemberut, karna Moren lagi marahan sama mamanya, karna dia gak mau mengaji di Madrasah. Hai ... Moren kok cemberut sech?? Ada apa cerita donk sama aku? Kan aku temanmu, Sopie aku lagi kesal banget sama mama, soalnya mama marah-marah terus. Kata Moren lagi, itu sih kamu yang bikin mama mu marah coba kamu menjadi anak yang penurut pasti orang tua kita akan senang dan gak kan mungkin marah-marah sama kita. Oo... Guman Moren lagi.

Akhirnya Moren minta maaf sama mamanya dan Moren dan Sopi pun pergi bermain bersama di taman sambil membawa boneka bereka masing-masing. Tiba-tiba datang Ranum sambil menggendong Aira yaitu adiknya Moren, Ranum pun kelihatan seperti orang yang lagi bermusuhan sama Sopie dan Moren.

Ada apa Ranum?? Kok kelihatannya marah sama kami, ujar Sopi, ya iyalah aku marah soalnya kalian asyik-asyik main sementara aku gendong Aira, kok gak ikhlas sich kata Moren pada Ranum, kalau mau main ya main aja sini sama aku dan Sopi.

Mereka pun bermain bersama, tiba-tiba Sopie kehilangan boneka barbie nya, teman-teman dimana boneka ku?? Kok gak ada tadi aku letakkan di dekat pohon ini? Kkata Sopi sambil menunjuk pohon yang rindang itu. Sopie pun panik, begitu juga Moren mereka sibuk mencari boneka Sopie yang hilang, tapi Ranum kelihatan cuek saja dan malah bermain sendiri.

Ranum? apa kamu lihat boneka ku? kata Sopie pada Ranum? ee ... gak tuh sahut Ranum gugup. Tiba-tiba boneka Sopie ketemu di dalam tas Ranum, Aira yang melihat duluan, tadi dia buka-buka tas Ranum. Ranum pun berlari tapi di kejar sama Moren, Ranum kamu mengapa mengambil boneka Sopie? 

Tapi Ranum hanya diam, maafkan aku ya Sopie soalnya aku pengen banget punya boneka seperti itu, tapi ibu ku belum bisa untuk membelinya. Kata Ranum sedih, Sopie dan Moren pun ikut sedih, Ranum boneka ini untuk kamu saja kata Sopie dan lain kali kamu jangan mencuri dan tak boleh berbohong nanti kita dimarahi Tuhan kata Sopie dan Moren, mereka berpelukan, Aira pun tertawa melihat kakak-kakaknya baikan dan saling berpelukan Aira pun ikut berpelukan bersama Sopie, Moren dan Ranum, mereka pun bahagia dan tidak ada kebohongan diantara mereka.

Kota Kelamin

Cerpen Mariana Amiruddin
Mataku berkaca membentuk bayangan. Bayangan wajahnya. Wajah pacarku. Wajah penuh hasrat menjerat. Duh, dia menyeringai dan matanya seperti anjing di malam hari. Aku tersenyum dalam hati, ia menggeliat, seperti manusia tak tahan pada purnama dan akan segera menjadi serigala. Auu! Ia melolong keras sekali, serigala berbadan sapi. Mamalia jantan yang menyusui. Aku meraih putingnya, menetek padanya, lembut sekali. Lolongannya semakin keras, menggema seperti panggilan pagi. Pada puncaknya ia terkapar melintang di atas tubuhku. Dan tubuh pagi yang rimbun. Ia tertidur.

Pagi menjelang, ketika gelap perlahan menjadi terang. Tampak tebar rerumput dan pepohonan menjulang, angin dan sungai dan di baliknya bebek-bebek tenggelam dalam gemericik. Kutatap tubuhnya yang berkeringat membasahi tubuhku. Mengalir menumpuk menjadi satu dengan keringatku. Bulir-bulir air seperti tumbuh dari mahluk hidup. Bulir-bulir yang juga dinamai embun-embun bertabur di atasnya, bercampur keringat kami.

Matahari membidik tubuhku dan tubuhnya. Seperti kue bolu yang disirami panas agar merekah wangi. Wangi birahi tubuh kami. Pacarku masih mendengkur. Aku memperhatikan dadanya yang naik turun berirama, yang di atasnya dibubuhi bulu-bulu halus. Aku memainkan bulu-bulu itu dan sesekali mencabutinya. Bangun, kataku berbisik di telinganya. Lihat, matahari menyapa kita. Bebek-bebek naik ke daratan dan mendekati, mematuk biji-biji tanah di sekitarku. Aku melirik pelir pacarku yang kecoklatan. Kulit kendur, dan seonggok penis layu di atasnya. Aku tertawa sendiri. Bebek-bebek menyahut. Aku membelai penisnya, seperti membangunkan siput yang bersembunyi di balik rumahnya. Penis yang kunamai siput itu bergerak bangkit, bangun rupanya. Menegang, menantang, dan tersenyum memandangku. Selamat pagi, kataku. Kamu lelah semalaman, memasuki liang liurku. Dan rupamu yang menegang berjam-jam, kau harus menembus liangku berulang-ulang.

Di tempat inilah kami biasa bertamasya melakukan senggama. Tempat yang jauh dari mata-mata manusia yang mengutuk kelamin orang dan kelaminnya sendiri. Pacarku lalu terbangun, matanya memicing, bibirnya membentuk perahu, tersenyum seadanya. Liangmu nakal, katanya sambil menggeliat dan memelukku. Apa jadinya vagina tanpa liang. Apa jadinya tanpa lubang. Bagaimana menembusnya, katanya. Dan liurmu yang berlumur di penisku, bagaimana Tuhan menciptanya.

Aku memetik sekuntum bunga dan mematahkan putiknya, terlihat getah mengalir di ujung patahannya. Seperti ini, kataku menunjukkan padanya. Dan aku seperti ini, katanya sambil menjatuhkan serbuk sari bunga itu di atas kepala putik. Kami tertawa renyah.

Kami sepakat bahwa kelamin seperti sekuntum bunga dengan dua jenis kelamin di dalamnya. Benang sari dan putik yang tak mungkin berpisah dari kelopak bunganya. Juga warna-warna alam yang membiarkan kami melakukan senggama. Tak ada yang melarang, membatasi, tak juga mengomentari.

Inilah kebahagiaanku dengannya, kelamin-kelamin yang bahagia di malam hari. Kelamin juga butuh kebahagiaan. Kami mengerti kebutuhan itu. Kelamin-kelamin yang melepas jenuh, setiap hari tersimpan di celana dalam kami masing-masing. Tak melakukan apa pun kecuali bersembunyi dan menyembur air seni. Kelamin-kelamin yang menganggur ketika kami bekerja keras mencari uang. Apalagi penis pacarku, ia terlipat dan terbungkus di kantong sempaknya. Ketika mengembang ia menjadi sesak. Betapa tersiksanya menjadi penis. Begitu pula vagina, wajahnya sesak dengan celana dalam ketat nilon berenda-renda, tak ada ruang baginya. Kelamin-kelamin hanya dibebaskan ketika kencing dan paling-paling memelototi kakus setiap hari.

Kelamin kami memang tak boleh terlihat, oleh binatang sekalipun. Meski pada awalnya mereka hadir di dunia yang dengan bebasnya menghirup udara bumi. Sejak itu mereka bersinggungan dengan benda-benda buatan manusia. Terutama ketika dewasa, mereka semakin tak boleh diperlihatkan. Tak boleh terlihat mata manusia.

Suatu hari, vaginaku memucat. Penis pacarku kuyu. Aku heran, apa yang terjadi, kelamin yang tak bahagia. Aku dan pacarku diam, suasana sepertinya tak lagi menghidupkan kelamin-kelamin yang menempel di tubuh kami. Seandainya mereka bisa bicara apa maunya. Lalu kami mencoba telanjang dan berbaring berpelukan di rerumputan. Kelamin kami saling bertatapan. Tapi kami malah kedinginan. Tubuh kami menggigil memucat. Angin malam pun datang, mengiris-iris tulang kami. Ai! Pacarku, tiba-tiba penisnya hilang. Ke mana ia? Di sini, ia melipat meringkuk tak mau muncul, kata pacarku. Vaginamu? Mana vaginamu? Pacarku merogoh vaginaku, berusaha sekuat tenaga mencari lubang dan liang, tapi tak ketemu. Mana lubangmu? Kok susah? Tanya pacarku. Ia menutup sendiri, kataku. Lihat, senyumnya tak ada lagi.

Kami berdua beranjak, kemudian duduk di dekat sungai, menjauh dari angin. Tubuhku dan dia masih telanjang dan pucat di malam yang semakin pekat. Kami terdiam. Diam saja sampai pagi.
***
Sudah lama aku tak bertemu pacar. Entah mengapa, aku pun tak tertarik untuk bertemu. Bahkan mendengar lolongan dan dengkur tidurnya. Serta dadanya yang naik turun bila terserang nafsu. Aku sibuk bekerja beberapa minggu ini. Tak pernah tertarik pula pada bebek-bebek, angin dan pohon yang biasa aku dan dia temui di tengah senggama kami. Entah mengapa, ketika kubuka celanaku tampak vaginaku pucat tak lagi menunjukkan senyumnya. Kutarik celanaku dengan kasar, seperti ingin menyekap vaginaku yang tak lagi ramah. Sial! Kataku. Aku merasa tak ada gunanya punya kelamin kecuali untuk keperluan kencing. Aku kehilangan gairah, kulempar semua berkas-berkas di meja kerjaku. Juga foto-foto di atas meja. Foto-foto ketika kami bahagia. Dan foto-foto kelamin kami di dalam laci. Aku melemparkannya hingga membentur dinding.

Kubuka kaca jendela ruangan. Tampak tebaran gedung-gedung tinggi dan patung besar menjulang di tengah kota dan jalan-jalan layang yang menebas di tengahnya. Tampak pemukiman kumuh di baliknya dalam cahaya remang ditelan tebaran lampu gedung dan jalan yang menyala-nyala. Napasku sesak, seperti lama tak bernapas. Kujambak rambutku sendiri, dan aku berteriak panjang sekuat-kuatnya. Sampai aku lelah sendiri. Aku duduk di pojok ruangan, memandang meja kerjaku yang berantakan. Duduk lama hingga bulan tiba. Semua orang yang ingin menemuiku aku tolak. Aku mengunci pintu dan mematikan lampu. Aku terserang sepi. Kehilangan motivasi. Aku tertidur di atas kakiku sendiri.

Terdengar suara-suara merintih memanggil-manggil. Suara sedih dan renta. Ia seperti datang dari udara kota. Aku terbangun dan menajamkan pendengaran. Suara apa itu? Ia ternyata hadir tak jauh dari dekatku. Aku mencari sumber suara itu. Mana dia? Kutemui suara itu yang ternyata keluar dari vaginaku.

Kami tak pernah diakui. Kami terus saja diludahi. Kami dinamai kemaluan, yang artinya hina. Manusia tak pernah menghargai kami. Sama dengan pelacur-pelacur itu. Segala aktivitas kami dianggap kotor.

Samar-samar kudengar suara vaginaku yang aneh. Ia tak seperti suara manusia. Kata-katanya seperti kayu yang lapuk dan lembab, yang sebentar lagi akan dimakan rayap.

Bagaimana cara Tuhan memaknai kami? Kami pun buruk dalam kitab-kitab suci, lebih buruk dari setan dan jin.

Aku mengelus vaginaku. Kubuka celanaku dan membiarkannya bernapas. Aku bingung sendiri bagaimana ia bisa bicara. Itukah yang membuatmu pucat selama ini?

Keningku berkerut. Setelah itu tak ada lagi suara. Aku menatap vaginaku, seperti menatap mahluk hidup yang mati. Aku menyalakan lampu. Aku membereskan berkas-berkasku yang berantakan di lantai ruangan. Aku membuka kunci pintu dan keluar menuruni tangga, aku ingin berjalan mengelilingi kota di hari menjelang larut. Tampak orang-orang lalu-lalang dan beberapa seperti sengaja menabrak tubuhku. Aku jengkel dan berteriak memaki mereka. Tiba-tiba datang suara-suara seperti rayap yang merambat di balik kayu-kayu bangunan tua. Ampun, suara apa lagi ini? Samar-samar aku seperti melihat orang-orang telanjang dan berbicara dengan kelaminnya. Semua orang di kota ini telanjang! Kelamin mereka megap-megap. Penis-penis menegang seperti belalai gajah yang sedang marah dan melengkingkan suaranya. Vagina-vagina memekik dan menampakkan kelentit-kelentitnya yang tak lagi merekah. Liang-liang gelap vagina tampak menganga di depan mata.

Aku tak kuasa mengendalikan kebingunganku. Aku tahu para kelamin sedang meneriakkan batinnya. Aduh, manusia. Benar juga, bahkan tubuhmu sendiri tak kau hargai. Aku ingin sekali membantu mereka. Bahkan kelamin-kelamin yang sejenis dan bercinta setiap malam, dan kelamin-kelamin yang telah diganti dengan kelamin jenis lain, aku melihat jelas sekali kelamin para waria yang sedang berjoget di jalanan itu. Kelaminnya menangis tersedu-sedu mengucapkan sesuatu.

Aku lelah dan berhenti di sebuah taman kota. Aku duduk di bangku taman itu sembari melihat patung telanjang yang menjulang di atasku. Penisnya tampak dari bawah tempatku duduk. Aku melihat rupa patung itu yang penuh amarah, dan penis besarnya yang tak lain adalah batu.

Pacarku, aku teringat pacarku. Di manakah pacarku.
Di sini!
Kaukah itu?

Tak kuduga pacarku tiba mendatangiku dalam keadaan telanjang. Penisnya seperti jari-jari yang sedang menunjuk. Penisnya menunjuk-nunjuk ke arah kelaminku. Ternyata aku pun telanjang. Orang-orang di kota ini telanjang tak terkecuali. Kulihat vaginaku megap-megap dan liurnya menetes-netes. Pacarku lekas meraih tubuh telanjangku di taman itu, memeluk dan menggendongku di bawah patung besar telanjang menjulang.

Matanya menembus mata dan hatiku. Jarinya merogoh liang gelap vaginaku yang sudah menganga. Pacarku sangat mengenal teksturnya. Liur yang melimpah. Limpahannya membasahi jemarinya. Lalu ia mencabutnya dan menggantikan dengan penisnya yang menembus. Kini kami bersenggama di tengah kota. Kota di mana setiap orang telanjang dan tak peduli dengan ketelanjangan orang lain. Auu! Pacarku kembali menjadi serigala melolong. Ia menggigit seluruh tubuhku. Seperti anak anjing, aku menggapai sepasang puting di dadanya dengan lidahku. Kami menyatu dalam tubuh dan kelamin. Aku mengerti sekarang, kelamin pun punya hati. ***

untuk Hudan Hidayat yang ’takkan pernah sembuh’
Jakarta, 1 September 2005


Tentang Pengarang

Mariana Amiruddin, Magister Humaniora Kajian Wanita Universitas Indonesia. Kini bekerja sebagai Redaktur Pelaksana Jurnal Perempuan
dan Manager Program Yayasan Jurnal Perempuan. Bukunya antara lain Perempuan Menolak Tabu, Beyond Feminist dan novel berjudul Tuan dan Nona Kosong bersama Hudan Hidayat.

Pecundang

Akhirnya aku kembali ke tempat ini. Aku tidak bisa menahan perasaanku untuk tidak menemuinya lagi. Aku hanya ingin melihatnya dari jarak yang agak jauh, dari tempat yang agak terlindung. Dari balik malam, dengan leluasa aku bisa melihatnya tertawa dan tersenyum --tawa dan senyum yang dibuat-buat-- di hadapan para tamu.

Tempat dia duduk menunggu tamu cukup terang bagi mataku, meski tempat itu hanya ditaburi cahaya merah yang redup. Aku masih bisa merasakan pancaran matanya yang pedih. Aku merasa dia sedang memperhatikan aku. Aku berusaha bersembunyi di balik kerumunan para pengunjung yang berseliweran di luar ruangan. Tapi sejenak aku ragu, apakah benar dia melihatku? Ah, jangan-jangan itu hanya perasaanku saja. Aku yakin dia kecewa dengan aku. Dia kecewa karena aku gagal membawanya pergi dari tempat ini.

Hampir setiap malam aku mengunjungi tempat ini hanya untuk melihatnya dari kegelapan dan memastikan dia baik-baik saja. Aku seperti mata-mata yang sedang mengintai mangsanya. Atau mungkin aku seorang pengecut yang tidak berani menunjukkan batang hidung setelah kegagalan yang menyakitkan hatiku. Atau bisa jadi aku telah menjadi pecundang dari kenyataan pahit ini.

Biasanya aku akan datang sekitar jam delapan malam. Aku memarkir motor di kegelapan dan berjalan perlahan menuju tempat dia biasa menunggu tamu. Jelas aku tidak akan berani masuk ke dalam ruangan yang pengab dengan asap rokok dan bau minuman itu. Aku terlanjur malu dengan dia. Makanya, aku hanya berani berdiri di luar, di dalam kegelapan, dengan tatapan mata yang sangat awas yang tertuju pada ruangan di mana dia duduk santai sambil mengepulkan asap rokoknya.

Seringkali aku dibakar api cemburu ketika ada lelaki yang menghampirinya dan merayunya. Api cemburu itu semakin menjadi-jadi ketika dia juga meladeni lelaki yang merayunya dengan senyum dan tawa. Dan hatiku benar-benar hangus ketika kulihat dia masuk ke dalam biliknya ditemani lelaki itu. Saat itu juga batok kepalaku dipenuhi berbagai pikiran-pikiran buruk. Ya, sudah jelas, di dalam bilik sederhana itu mereka akan bergulat, bergumul, dan saling terkam dalam dengus napas birahi.

Ah, sebenarnya tidak begitu. Itu hanya pikiran-pikiran burukku saja. Aku tahu dia perempuan lugu yang terjebak dalam situasi seperti itu. Semacam anak kijang yang masuk perangkap pemburu.

Aku merasa aku telah jatuh hati padanya. Kamu tahu, bagaimana proses jatuh hati itu kualami? Baiklah, akan kuceritakan untukmu. Saat itu aku diajak oleh kawan karibku datang ke tempat ini. Kawanku itu menemui langganannya. Sedang aku hanya bengong-bengong di ruangan sambil minum kopi. Seorang ibu paruh baya menghampiriku. Dengan mata genit ibu itu mengatakan padaku kenapa aku tidak masuk kamar? Aku bilang bahwa aku lagi ingin sendiri, lagi ingin menikmati suasana saja. Ibu itu mengatakan ada yang baru, masih belia, baru datang dari kampung. Ibu itu bilang usianya baru 15 tahun. Dalam hati aku tertarik juga dengan perkataan ibu itu. Wah, masih belia sekali? Aku jadi ingin tahu kayak apa perempuan yang dibilang belia itu? Ibu tua itu kemudian memanggil dia.

Sehabis mandi, ibu tua itu mengantar perempuan itu kepadaku. Dengan malu-malu perempuan ingusan itu duduk di sebelahku. Dia hanya diam dan tidak berkata-kata. Wajahnya manis dan memang masih bau kencur. Entah anak siapa yang disesatkan ke tempat seperti ini. Ibu tua itu menyuruhku segera mengajaknya masuk kamar, tentu dengan tarif khusus, lebih mahal dari biasanya.

Di dalam kamar, perempuan itu masih diam, tak banyak bicara. Dari wajah kekanak-kanakannya terpancar perasaan cemas dan keragu-raguan. Aku jadi iba melihat tingkahnya yang memelas itu. Aku segera mencegah saat dia hendak melucuti busananya. Dia bingung dengan tingkahku.

"Saya harus melayani tamu saya," jelasnya.

"Aku tak perlu dilayani. Aku hanya ingin ngobrol denganmu. Dan aku akan tetap membayar sesuai tarif yang telah disepakati," ujarku.

Aku menatap wajah yang lugu itu. Entah kenapa aku jadi tidak tega dan merasa simpati dengan dia. Mungkin aku terjebak pada pancaran matanya yang begitu diliputi kepolosan sekaligus kecemasan. Aku telah mengenal sejumlah perempuan yang bekerja seperti ini. Tapi dengan perempuan satu ini, aku merasakan dalam diriku bangkit suatu keinginan menjadi hero, ingin menyelamatkannya.

Aku mendekapkan kepalanya ke dadaku. Aku membelai-belai rambutnya yang sebahu. Tiba-tiba saja aku merasa menjadi seorang kakak yang ingin melindungi adiknya dari segala marabahaya.

"Mengapa kamu bisa berada di tempat seperti ini?" tanyaku lirih. "Seharusnya kamu menikmati masa-masa sekolahmu, seperti teman-temanmu yang lain.."

Perempuan itu diam dan menatapku lembut.

"Saya tidak tahu, Mas. Saya diajak oleh tante saya ke sini. Saya dijanjikan pekerjaan dengan gaji yang menggiurkan. Tapi ternyata saya dijebak di sini oleh tante saya sendiri."

Aku kaget mendengar pengakuannya yang memilukan itu. Diam-diam dalam hatiku, rasa kasihan perlahan menjelma rasa simpati dan keinginnan untuk mengasihinya.

"Kamu ingin pergi dari tempat ini?"

"Ya, jelas, Mas. Tapi bagaimana caranya saya bisa pergi dari sini?"

"Aku akan ngomong sama bosmu."

"Mustahil, Mas!"

"Mengapa mustahil?"

"Mas tidak paham situasi di sini. Sekali perempuan terjebak dalam tempat ini, maka seumur hidup akan berkubang di sini."

"Tidak. Aku akan menyelamatkanmu. Kamu harus melanjutkan sekolahmu. Dan kamu mesti cari kerja yang lebih bagus dari kerja begini."

Perempuan bau kencur itu menundukkan kepalanya. Matanya memancarkan harapan, harapan bagi sebuah kebebasan.

Aku cium keningnya. Aku bisikkan beberapa patah kata agar dia bersabar dan tabah. Aku ke luar dari bilik dengan perasaan gundah.

"Gimana, Mas? Bagus, kan?" Ibu paruh baya itu berdiri di depan pintu dan mengerlingkan mata genit ke arah mataku.

Tiba-tiba saja aku ingin muntah melihat tampang ibu genit itu.

"Aku ingin ngomong sama bosmu," ujarku dengan nada agak geram.

"Ada apa, Mas? Apa servisnya tidak memuaskan ya...? Wah, kalo gitu saya akan lapor ke bos."

"Jangan. Bukan masalah itu. Ada yang aku ingin bicarakan sama bosmu. Tolong panggil dia."

Perempuan paruh baya kepercayaan bos itu tergopoh-gopoh menemui bosnya. Tak berapa lama, dia muncul kembali mengiringi perempuan agak gembrot dengan wajah menyiratkan kelicikan.

"Ada apa, Mas? Apa dia tidak melayani Mas dengan baik?"

"Bukan masalah itu, Bu. Kira-kira kalau aku ingin mengajak dia keluar dari sini, gimana?"

Wajah perempuan gembrot yang licik itu seketika berubah curiga.

"Maksud Mas gimana?"

"Aku ingin mengajak dia pergi dari sini."

"Kalau begitu Mas harus menebusnya Rp 5 juta, gimana?"

Aku terkesiap. Gila benar si gembrot ini. Mengapa aku mesti menebusnya sebanyak itu? Bukankah setiap orang berhak memilih kebebasannya?

"Kenapa aku mesti menebus sebanyak itu? Dia bukan barang mati. Dia manusia yang memiliki kebebasannya," ujarku geram.

Si gembrot tersenyum sinis.

"Mas ini kayak tidak mengerti aja. Dia berada di bawah pengawasan dan tanggung jawab saya. Tantenya telah menitipkan dia pada saya."

"Kalau begitu, kamu tidak berhak menjual dia dengan mempekerjakan dia sebagai pelacur," ujarku semakin geram melihat tingkah si gembrot.

"Hidup makin sulit Mas. Semua orang perlu uang dan sekarang ini segala sesuatu diukur dengan uang. Begini saja Mas. Kalau Mas mau membawa dia, maka Mas sediakan uang Rp 5 juta. Itu saja."

Si gembrot sambil menggerutu pergi meninggalkan aku yang masih terbengong-bengong. Sejenak aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Aku pun pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan luka. Sepintas kulihat mata perempuan yang ingin kuselamatkan itu berkilat basah menatap kepergianku.

Beberapa hari kemudian aku berusaha mendapatkan uang sebanyak itu untuk menebus dia. Aku berusaha meminjam kepada kawan-kawanku. Namun usaha kerasku hanya berbuah kesia-siaan. Aku hanya bisa mengumpulkan Rp 2 juta. Aku kembali ke tempat itu dan mencoba tawar-menawar dengan si germo gembrot, tapi sia-sia belaka. Si gembrot tetap pada pendapatnya semula.

Aku merasa kecewa dengan diriku sediri. Aku tidak berdaya menyelamatkan dia. Aku tidak habis-habisnya mengutuki diriku sendiri, mengapa aku tidak berkesempatan jadi orang kaya.

Maka seperti saat ini, setiap malam aku hanya bisa menatap dia dari kegelapan malam. Sambil menahan hatiku yang hampir hangus dibakar cemburu, aku melihat dia bercengkerama dengan para tamu. Sepertinya dia bahagia dengan pekerjaan yang dijalaninya. Setiap melihat senyum dan tawanya, aku merasa bersalah sekaligus kecewa dengan diriku sendiri. Pada akhirnya aku hanya jadi pecundang.

BIODATA SINGKAT
WAYAN SUNARTA lahir di Denpasar, 22 Juni 1975. Lulusan Antropologi Fakultas Sastra Universitas Udayana. Sempat mencicipi studi seni lukis di ISI Denpasar. Menulis puisi, cerpen, feature, esai dan ulasan seni rupa. 

Jangan Menyebut Dua Frasa Itu

Yang hidup di tepi laut, tak takut menyambut maut.
Tapi ia, juga orang-orang yang tubuhnya telah lama tertanam dan tumbuh-biak-berakar di kampung nelayan ini, adalah sekelompok paranoid, yang menanggung kecemasan pada dua frasa. Dua frasa ini merupa hantu, bergentayangan, menyusup, menyelinap, dan acapkali hadir dalam sengkarut mimpi, mengganggu tidur. Dan saat bayangannya hadir, ia membawa kaleidoskop peristiwa-peristiwa buruk, yang menyerang, datang beruntun. Maka, ketahuilah bahwa dua frasa itu sesungguhnya kini hadir lebih sebagai sebuah energi negatif yang primitif, selain bahwa ia juga sedang menghadirkan dirinya dalam sosoknya yang energik, molek dan penuh kemegahan.

Tapi mampukah ia, si renta yang bermulut tuah, bertahan untuk tidak menyebut dua frasa itu, yang sesungguhnya telah demikian lekat bersebati di ujung lidahnya, bagai asin laut yang ia cecap setiap hari dan terus mengalir di air liur ke-melayu-annya.

"Ingat ya Tuk, Datuk tak boleh menyebut dua frasa itu. Bahaya!" Demikian proteksi dari yang muda, dari cucu-cicitnya. Dan merekalah yang sesungguhnya membuat ia kian merasa cemas. Di usianya yang susut, ia justru merasa kekangan-kekangan datang menelikung. Tak hanya kekangan fisik karena kerentaan yang datang dari kodrat-kefanaan tubuhnya sendiri, tapi juga kekangan-kekangan yang kerap ia terima dari orang-orang di luar tubuhnya. Orang-orang yang sebenarnya sangat belia untuk mengetahui rasa asam-garam, sangat rentan terhadap patahnya pepatah-petitih di lidah mereka.

Tapi, di saat yang lain, ia merasa aneh. Kenapa dua frasa itu, akhir-akhir ini demikian bergaram di lidahnya, tetapi demikian hambar di lidah orang muda? Tengoklah mereka, orang-orang muda, mengucapkan dua frasa itu seperti angin yang ringan, terlepas begitu saja, dan terhirup tak berasa. Dua frasa itu mereka ucapkan di merata ruang, merata waktu. Dari ruang-ruang keluarga, sampai dalam percakapan di kedai kopi. Dan setelahnya, secara tersurat, memang tak ada satu pun peristiwa buruk yang tampak terjadi, seperti layaknya ketika ia, si lelaki renta, yang mengucapkannya.

"Datuk kan bisa melihat akibatnya, ketika dua frasa itu keluar dari mulut Datuk yang bertuah itu. Badai topan datang menyerang dari arah laut. Habis semua rumah-rumah penduduk. Lintang-pukang seisi kampung nelayan. Nah, kalau Datuk memang tak ingin melihat anak-cucu-cicit datuk porak-poranda, ya sebaiknya Datuk jangan sesekali menyebut dua frasa itu. Dan Datuk tak boleh iri pada kami, ketika kami dengan sangat bebas bisa menyebut dua frasa itu, karena Datuk sendiri tahu bahwa lidah kami memang tak sebertuah lidah Datuk."

Tapi ia, si lelaki renta itu, selalu merasakan ada yang aneh. Instingnya mengatakan bahwa ada badai-topan dalam wujudnya yang lain yang sedang menyerang, sesuatu yang tersirat. Sejak ia mengunci mulut untuk tidak menyebut dua frasa itu, justru kini ia menyaksikan persitiwa-peristiwa buruk yang lain datang, sedang menyusun kaleidoskopnya sendiri. Tengoklah, kenapa kian menjamurnya anak-anak perempuan yang hamil luar nikah, dan anak-anak terlahir tak ber-Ayah. Kenapa kian dahsyatnya anak-anak muda yang tenggen, mengganja, dan saling membangun anarkhi dan istana-istana mimpi dalam tubuh mereka. Kadang-kadang malah mereka kini tampak serupa robot, atau bahkan kerbau dungu, atau serupa mesin-mesin yang bergerak cepat tak berarah, membabi-buta. Akibatnya, kampung nelayan yang serupa tempurung ini, kini lebih tampak sebagai sebuah ruang diskotek tua yang pengap, sebuah ruang yang sedang menanggung beban masa lampau sekaligus beban masa depan.

Dan tengoklah pertikaian demi pertikaian yang terjadi. Jaring Batu hanyalah sebuah sebab, yang membuat perahu-perahu dibakar, orang-orang diculik, dipukul, dan perang saudara kemudian membangun tembok yang sangat angkuh di antara orang-orang Pambang dan orang-orang Rangsang. Hanya egoisme sesat yang membuat mereka lupa bahwa mereka sesungguhnya berasal dari satu rumpun, satu ras, satu suku. Dan mereka para nelayan, yang mestinya adalah para penjaga tepian ini, tapi kini mereka telah menjelma para nelayan yang meruntuhkan tepian ini.

Peristiwa buruk lain yang kini melanda adalah timbulnya beragam penyakit yang aneh. Penyakit-penyakit yang tak bisa disembuhkan hanya dengan tusukan jarum suntik pak mantri, dan kebal dari obat-obat generik yang dijual di kedai-kedai runcit. Dan anehnya lagi, penyakit-penyakit itu membuat si penderita seperti terkunci mulutnya untuk bisa mengucapkan dua frasa itu. Dan biasanya, ujung dari deritanya, mereka kebanyakan menjadi bisu, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun selain erangan.

Dan ia, si lelaki renta itu, seolah dapat memastikan bahwa sebab dari semua ini adalah karena kelancangan mereka yang menyebut dua frasa itu secara sembarangan. Tak hanya itu, dua frasa itu kini bahkan telah diperjual-belikan ke mana-mana, karena rupanya ia bernilai tinggi karena dianggap eksotis dan jadi ikon historis. Maka dua frasa itu diproduksi, seperti layaknya memproduksi kayu arang atau ikan asin. Dan anehnya, mereka tidak percaya bahwa lidah mereka sendiri sebenarnya juga bergaram. Tapi mungkin garam dengan rasa asinnya yang lain.

Sesekali ia, lelaki renta itu, pernah juga melemparkan saran, "Sebenarnya kalian juga tak boleh menyebut dan memperlakukan dua frasa itu secara sembarangan. Buruk padahnya nanti." Tapi, saran dari seorang renta yang bersuara parau, bagi mereka, hanya bagai suara gemerisik semak dalam hutan. Dan mereka selalu menjawab dalam bisik yang sumbang, "Maklum, masa mudanya tak sebahagia kita…"
***
Tapi di malam yang mendung itu, ia tak menduga tiba-tiba segerombolan orang secara agak memaksa, membawanya ke tepian laut. Lelaki renta itu bingung, kenapa orang-orang yang biasanya selembe saja padanya, kini demikian bersemangat memintanya untuk ikut bersama mereka. Apakah ada sebuah perayaan? Setahu ia, di sepanjang bulan ini tak ada perayaan hari besar maupun perayaan adat. Dan, kalaupun ada, biasanya ia lebih sering tidak diundang, karena mungkin dianggap telah demikian uzur, atau mungkin kehadirannya membuat orang-orang muda tak bebas berekspresi, karena pastilah terkait dengan pantang-larang.

Sesampainya di tepian laut, ia menyaksikan orang-orang telah duduk bersila, sebagian bersimpuh, di atas pasir hitam. Mereka tampak tertunduk demikian hikmat. Di bibir pantai, terlihat beberapa buah perahu yang berbaris, seperti barisan meriam yang moncongnya mengarah ke laut, siap diluncurkan. "Ah, inilah satu frasa itu, yang tampaknya akan dilayarkan ke satu frasa yang lain," pikir lelaki renta itu. Dan ia langsung dapat menduga bahwa akan ada sebuah upacara pengobatan tradisional. Tapi siapa yang sakit?

Seorang muda, tiba-tiba seperti berbisik ke telinga lelaki renta itu. "Datuk, kami mengundang Datuk ke sini untuk meminta Datuk supaya bisa mengobati kami semua." Lelaki renta yang dipanggil Datuk itu agak terkejut. Keningnya berkerut. Ia tidak melihat ada gejala atau tanda-tanda bahwa orang-orang yang berada di sini dalam keadaan sakit. Yang tampak olehnya adalah sekumpulan besar orang yang seperti sedang berdoa. Tapi pemuda itu berbisik lagi, "Datuk, kami semua yang berkumpul di sini sedang menderita penyakit bisu. Sebagian mereka telah benar-benar bisu dan tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Dan sebagian kecil yang lain, termasuk saya, tak bisa mengucapkan dua frasa itu, Datuk. Sementara untuk melakukan upacara ini tentu harus mengucapkan dua frasa itu kan, Datuk? Untuk itu, kami semua meminta Datuk untuk melakukan prosesi pengobatan… …pengobatan…pengobatan…tak bisa Datuk, saya betul-betul tak bisa mengucapkannya." Lidah pemuda itu seperti tersangkut saat hendak menyebut sebuah frasa.

Lelaki renta itu seperti tak percaya. Tapi kepalanya tampak mengangguk-angguk perlahan. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga pemuda, dan membalas berbisik, "Anak muda, kalian pernah melarangku untuk mengucapkan dua frasa itu. Kini kalian juga yang meminta aku untuk mengucapkannya. Apakah kalian tak takut badai topan yang akan menyerang? Kalian tak takut maut?"

Pemuda itu tertunduk ragu. Tak lama kemudian berbisik kembali. "Datuk, kami semua pasrah. Kalaulah ditakdirkan untuk menerima badai topan, dan kami harus mati karenanya, mungkin itu akan lebih baik daripada kami harus hidup membisu, dan tak bisa mengucapkan dua frasa itu…"

Bibir lelaki renta itu mengguratkan senyum. Ia kini tak yakin bahwa ia akan mampu bertahan untuk tidak menyebut dua frasa itu, yang sesungguhnya telah demikian lekat bersebati di ujung lidahnya, bagai asin laut yang ia cecap setiap hari dan terus mengalir di air liur ke-melayu-annya. Paling tidak di dalam hatinya, ia senantiasa mengucapkan dua frasa itu menjadi sebuah kalimat, Lancang Kuning yang tersesat di tepian Selat Melaka.