Senin, 27 Mei 2013

Goodbye Password, Welcome Passthought


Selama ini kita sudah akrab dengan password (kata kunci), mulai dari akun e-mail, jejaring sosial, hingga perangkat elektronik lainnya. Begitu banyak yang harus diingat. Terkadang jadi masalah ketika kita lupa salah satu password yang dimiliki.

Sejumlah peneliti di UC Berkeley School of Information, Berkeley membuat terobosan agar manusia tak perlu mengingat dan menuliskan kata kunci yang biasanya berupa huruf dan angka. Tapi hanya memikirkannya.
 www.hlntv.com 

Dengan perangkat seperti headset, alat yang bernama Neurosky MindSet ini bisa merekam kata kunci yang Anda pikirkan.

Perangkat dengan harga US$ 100 ini bisa mendeteksi kata kunci dari gelombang otak. Menurut Prof John Chuang, pemimpin penelitian ini, perangkat gelombang otak atau electroencephalograms (EEG) ini mengukur aktivitas listrik di kulit kepala dalam bentuk gelombang panjang yang terkait dengan suasana hati, keadaan mental, dan perilaku. Hasil pengukuran EEG ini dihubungkan dengan komputer atau perangkat melalui bluetooth.


"Ini seperti menghubungkan dua perangkat seperti biasanya," ujar Chuang dalam presentasinya di Workshop on Usable Security at the Seventeenth International Conference on Financial Cryptography and Data Security, Okinawa, Jepang.

Penelitian ini akan fokus pada mengembangkan agar yang user-friendly. Peneliti yakin bahwa passthought ini bisa digunakan secara aman, akurat, dan massal.


Kendala passthought
Kendala yang masih ada ialah bagaimana komputer akan membedakan pikiran satu pengguna dengan pikiran pengguna lain jika mereka memikirkan passthought yang sama. Namun, kendala ini bisa dipecahkan. Kuncinya pada kemampuan komputer untuk mengenali pengguna, alias sistem otentikasi gelombang otak.

"Dalam percobaan, tingkat kesalahan hanya 1 persen," kata Chuang. Pengguna bisa membuat passthought dalam beragam bentuk. Misalnya dengan menyanyikan sebuah nada, melakukan gerakan tertentu, dan mengingat warna tertentu.

Sebelum muncul sistem security dalam peralatan ini, peneliti telah mampu untuk untuk meretas pikiran orang. Tim lain di Berkeley menemukan bahwa mereka bisa mengambil data, seperti PIN ATM, dengan mengidentifikasi ketika pengguna sedang berpikir untuk informasi yang pribadi.

Selama beberapa dekade, para ilmuwan kognitif telah menggunakan perangkat EEG sebagai terapi untuk berbagai masalah kesehatan mental dari Attention Deficit Disorder (ADD) atau gangguan stres pasca-trauma. Dulu, perangkat EEG ini besar ukurannya. Seiring dengan perkembangan teknologi, ukurannya makin ringkas dan bisa dibawa ke mana saja.

Dengan pemanfaatan EEG untuk passthought, kemungkinan model passthought ini dipakai dalam teknologi masa depan. 

Sumber :

Lowongan: Ada yang Mau Kerja di Luar Angkasa?

Asteroid 2011 AG5 berpotensi menabrak bumi 2 Februari 2040. Prediksi para astronom mengartikan kemungkinan kiamat (atau "Armageddon" - sesuai filmnya) bakal terjadi kalau memang jadi kenyataan.

Asteroid pernah memicu ledakan setara 1.000 kali bom atom Hiroshima di Tunguska. Bahkan, memusnahkan spesies Dinosaurus saat jatuh 65 juta tahun lalu di Semenanjung Yucatan. 

Apakah ancaman kiamat ini membuat kita khawatir? Mungkin. Tapi tidak bagi para perusahaan Planetary Resources. 


Perusahaan yang didirikan tahun 2010 itu mengumumkan rencana menambang logam platinum dan juga air di asteroid dekat Bumi. Hebatnya lagi, kini mereka membuka lowongan kerja. 

"Salah satu alasan mengapa kami memutuskan mengumumkan rencana besar ini, karena kami sedang agresif mencari insinyur-insinyur terbaik di dunia untuk melengkapi tim kami," kata salah satu pendiri dan pimpinan Planetary Resources, Peter Diamandis, seperti dimuat situs sains, Space.com. "Sulit untuk mencari yang terbaik secara diam-diam."

Lebih jelasnya, Planetary Resources sedang mencari para insinyur yang membantu mendesain dan membangun robot penambang asteroid. Para pegawai tersebut diharap bisa mengubah konsep pertambangan asteroid yang selama ini dianggap fiksi ilmiah menjadi kenyataan.


Saat ini, perusahaan itu telah mempekerjakan sekitar dua lusin insinyur. Diamandis berharap, meski lowongan dibuka, profil pegawai tak terlalu gemuk agar efisien. "Kami mempekerjakan orang yang terbaik di antara yang terbaik."

Saat ini saja, setelah rencana besar perusahaan itu diumumkan lewat media, ribuan orang mengontak Planetary Resources. Termasuk relawan yang tak terhitung jumlahnya, yang menawarkan bantuan untuk mewujudkan eksplorasi luar angkasa.


Mimpinya ...

Planetary Resources bukan perusahaan abal-abal. Ia didukung sumber daya, dana, dan reputasi hebat para tokohnya. Dua pendirinya, Diamandis dan Eric Anderson, adalah pioner dalam industri penerbangan komersial ke luar angkasa. Di antara para investornya adalah pendiri Google, Larry Page dan Eric Schmid.

Sementara, sutradara James Cameron, mantan astronot NASA Tom Jones, dan ilmuwan planet dari kampus mentereng MIT Sara Seager duduk di jajaran penasehat.

Ada dua hal yang diincar Planetary Resources: platinum dan air. Platinum adalah kelompok logam yang terdiri dari ruthenium, rhodium, palladium, osmium, iridium, dan platinum, yang hanya ditemukan dalam konsentrasi rendah di Bumi.

Jika ketersediaan logam ini melimpah, niscaya ongkos untuk memproduksi hampir semua barang termasuk piranti elektronik defibrillator, perangkat selular, TV, komputer, monitor, dan katalis akan berkurang.


Sementara, air diproyeksikan akan diperdagangkan di luar angkasa. Air akan membantu para astronot tetap terhidrasi, juga membantu untuk bercocok tanam di luar angkasa. Lebih jauh lagi, air akan digunakan sebagai perisai radiasi pada pesawat luar angkasa. Juga bisa dipecah menjadi unsurnya, oksigen dan hidrogen sebagai komponen bahan bakar utama roket.

Planetary Resources berharap tambang air di asteroid menjadi tonggak dari cita-cita mewujudkan 'pompa bensin' yang menyediakan bahan bakar bagi roket. Untuk kendaraan luar angkasa rute Bumi-Mars, misalnya.

Tujuan perusahaan itu, selain mencari keuntungan dengan penjualan material berharga, juga bertujuan meningkatkan eksplorasi dan eksploitasi angkasa luar, dengan sumber dayanya, memposisikan diri sebagai 'industri jangkar' untuk membantu menyebarkan spesies manusia ke seantero tata surya.

Sumber :teknologi.vivanews.com
apakabardunia.com