Setelah mengetahui lebih dalam kewajiban mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka permasalahan selanjutnya adalah bagaimana cinta terhadap beliau. Banyak kaum muslimin yang mengaku bahwa mereka cinta terhadap nabi mereka yang mulia ini, di antaranya kekecewaan mereka terhadap pelecehan atas nama beliau. Akan tetapi, apakah sebatas itu? Adakah tuntutan-tuntutan atau hal-hal yang menunjukkan kalau seorang muslim itu cinta terhadap nabi mereka? Bagaimanakah sebenarnya hakikat cinta itu?
2 Hakikat Cinta Rasulullah
Cinta pada Rasulullah merupakan bagian cinta kepada Allah. Cinta kepada
Allah menuntut konsekuensi mencintai semua yang Allah cinta. Dan Allah
mencintai nabi dan kekasihNya, Muhammad. Sehingga cinta kepada Rasulullah
merupakan cabang dan termasuk kecintaan kepada Allah.
Ibnul Qayyim menyatakan:
”Semua kecintaan dan pengagungan kepada manusia diperbolehkan hanya
karena ikut kepada kecintaan Allah dan pengagunganNya, seperti cinta
dan pengagungan kepada Rasulullah. Kecintaan tersebut merupakan kesempurnaan
mencintai dan mengagungkan dzat yang mengutusnya, karena umatnya mencintai
beliau karena Allah mencintainya. Merekapun mengagungkan dan memuliakan
beliau, karena Allah memuliakannya”. HREF="#foot117">12
Dengan demikian, cinta kepada Rasulullah mengharuskan kita mencontoh
dan bersikap sama dengan Rasulullah dalam segala hal yang dicintai
dan dibencinya. Dan diwujudkan dalam ittiba’ (meniru) beliau. Kita
mencintai semua yang Raulullah cintai, dan membenci semua yang beliau
benci, ridha dengan yang semua beliau ridhai dan marah terhadap semua
yang Rasulullah marah padanya, serta mengamalkan semua yang tuntutan
cinta dan benci tersebut dengan amal perbuatan. HREF="#foot118">13
Kecintaan dan pengagungan kepada Rasulullah, dapat diwujudkan dengan
hal-hal berikut :
Mencintai beliau diatas kecintaan kepada diri sendiri, keluarga, dan
seluruh manusia. Allah berfirman :
Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang- orang mukmin dari diri
mereka sendiri (QS Al Ahzab : 6)
Juga sabda Rasulullah :
Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian, hingga menjadikan aku
lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia, HREF="#foot71">14
Sehingga demi yang dicintainya, seseorang dituntut siap mengorbankan
jiwa dan harta. Allah berfirman :
Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang badui yang
berdiam di sekitar mereka tidak turut menyertai Rasulullah (pergi
berperang), dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri
mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah, karena
mereka tidak ditimpa kehausan, kelaparan dan kepayahan pada jalan
Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang, membangkitkan
amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada
musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu
suatu amal shalih. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala
orang-orang yang berbuat baik. (QS At Taubat : 120).
Membenarkan semua yang diberitakan Nabi dari Allah, mentaati beliau
dalam semua perintahnya dan menjauhi segala larangannya, serta beribadah
sesuai dengan syari’atnya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
”Yang wajib bagi orang semisal mereka mengetahui bahwa kecintaan
dan pengagungan kepada Rasulullah hanya bisa terwujud dengan membenarkan
seluruh berita beliau dari Allah, mentaati perintah dan mencontoh
beliau, serta mencintai dan loyal kepadanya tidak mendustakan ajaran
beliau dan (tidak) berbuat syirik dan bersikap berlebihan terhadap
beliau. HREF="#foot119">15
Ini juga merupakan konsekuensi dari persaksian syahadat ”asyhadu
anna muhammadan ‘abduhu wa Rasuluhu”. Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab di dalam kitab Al Ushuluts Tsalatsah menjelaskan,
makna syahadat “anna Muhammadan Rasulullah” adalah, mentaati
beliau dalam semua perintahnya, membenarkan semua beritanya dan menjauhi
semua larangannya, serta tidak beribadah kecuali dengan syari’atnya. HREF="#foot121">16
Melaksanakan semua konsekuensi dari cinta kepada Rasulullah, baik
berupa i’tikad, pernyataan ataupun amalan, sesuai dengan hak-hak Rasulullah
yang Allah wajibkan kepada hati, lisan dan anggota tubuh, sehingga
membenarkan kenabian, kerasulan dan seluruh ajaran beliau. lalu melaksanakan
kewajiban dengan segenap kemampuannya, berupa ketaatan, ketundukan
kepada perintahnya dan meneladani sunnahnya. Allah berfirman :
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa
yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS Al Hasyr
: 7).
Termasuk dalam hal ini, yaitu mengucapkan shalawat dan salam kepada
beliau, menolong dan membela beliau dari semua orang yang mengusik
dan mengganggunya, baik ketika beliau masih hidup atau setelah wafat,
dan berbicara kepada beliau dengan perkataan yang pantas, mengutamakan
pendapat dan pernyataan beliau dari selainnya.
Jumat, 31 Agustus 2012
Hakikat Cinta Nabi (2/3)
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 Comment :
Posting Komentar