Setiap muslim yang mencintai Allah, wajib juga untuk mencintai Rasul-Nya. Cinta kepada Nabi Muhammad adalah konsekwensi dari cinta seorang muslim kepada Allah. Namun banyak di antara kita (kaum muslimin) yang belum memahami kewajibannya dalam mencintai Nabi.
Allah telah mengutus Rasulullah untuk menjelaskan kandungan makna
syahadatain dan memerintahkan beliau untuk memerangi manusia
hingga bersaksi kepadanya, sebagaimana sabda Rasulullah:
Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai bersaksi, sesungguhnya
tiada sesembahan yang benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan
Allah (syahadatain), menegakkan shalat dan menunaikan zakat.
Apabila mereka melakukan hal tersebut, maka terjaga dariku harta dan
darah mereka, kecuali dengan hak Islam, dan hisab mereka pada Allah. HREF="#foot106">1
Demikian juga Allah menjadikan ketaatan kepada Nabi sebagai konsekuensi
dari syahadatain dan jalan menuju kebahagiaan dan keselamatan
di dunia dan akhirat. Allah akan memberikan Surga kepada orang-orang
yang taat kepada beliau.
Dijelaskan di dalam Al Qur’an surat An Nisaa’ ayat 13, yang
artinya:
Barangsiapa yang menaati Allah dan RasulNya, niscaya Allah memasukkannya
ke dalam jannah yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka
kekal di dalamnya, dan itulah kemenangan yang besar.
Ibnu Taimiyah menjelaskan,
Ketaatan kepada Allah dan Rasulnya merupakan pokok kebahagiaan dan
keselamatan. HREF="#foot107">2 Karena, dengan diutusnya beliau sebagai Rasul Allah, maka manusia
dapat membedakan kebenaran dan kebatilan.
Demikian tinggi dan agungnya kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam di sisi Allah, sehingga Allah mewajibkan kepada hamba-hambanya
beberapa hak dan kewajiban seputar beliau. Di antaranya, mencintai
dan mengagungkannya melebihi diri hamba itu sendiri, bahkan melebihi
kecintaan kita kepada orang lain selain beliau. Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah menyatakan, cinta kepada Rasulullah termasuk kewajiban terbesar
terhadap agama. HREF="#foot108">3 .
Disebutkan di dalam sabda beliau :
Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga menjadikan
aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia. HREF="#foot109">4
1 Kewajiban Mencintai Rasulullah
Mencintai Rasulullah hukumnya wajib, bahkan kewajiban terbesar dalam
agama. Tidak sempurna iman seorang hamba, kecuali dengannya. Oleh
karena itu, Allah memerintahkan umat ini untuk mencintai Rasululah
melebihi dirinya, keluarga, harta dan seluruh manusia. Allah berfirman
:
Katakanlah, “jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-
istri, kaum keluarga , harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan
yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang
kamu sukai adalah lebih yang kamu cintai lebih daripada Allah dan
RasulNya dan dari berjihad di jalan Nya, maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusanNya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang fasik. (QS At Taubah : 24).
Al Qadhi iyadh menyatakan,
Ayat ini cukup manjadi anjuran dan bimbingan serta hujjah untuk mencintai
beliau dan kelayakan beliau mendapatkan kacintaan tersebut, karena
Allah menegur orang yang menjadikan harta, keluarga dan anaknya lebih
dicintai daripada Allah dan RasulNya dan mengancam mereka dengan firmanNya:
(maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya),
Kemudian di akhir ayat, Allah menamakan mereka sebagai orang fasiq
dan memberitahukan, bahwa orang tersebut termasuk sesat dan tidak
mendapatkan petunjuk Allah. HREF="#foot111">6
Nabi itu hendaknya lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka
sendiri. (QS Al Ahzab : 6).
Ayat ini menunjukkan orang yang tidak menjadikan Rasulullah lebih
utama dari dirinya sendiri, maka dia termasuk bukan mukmin. Hal ini
menunjukan, bahwa kewajiban mencintai Rasulullah melebihi dirinya
sendiri.
Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.
(QS Al Baqarah : 165).
Katakanlah,”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah maka, ikutilah
aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah
maha pengampun lagi maha penyayang. (QS Ali Imran: 31).
Allah telah menjadikan ittiba’(mengikuti RasulNya) sebagai bukti dan
dalil kebenaran cinta Allah. Hal ini dapat diwujudkan, hanya setelah
iman kepada nabi. Dan iman terhadap beliau harus terwujud syarat-syaratnya,
di antaranya mencintai Nabi, sebagaimana diberitakan Abu Hurairah
:
Demi Dzat yang jiwaku ditanganNya. Tidak sempurna iman salah seorang
dari kalian, hingga aku lebih ia cintai dari anaknya dan orang tuanya. HREF="#foot112">7
Selain hadits dari Abu Hurairah ini, hadits-hadits yang memerintahkan
demikian cukup banyak. Di antaranya seperti dalam hadits Umar bin
Al Khathab :
Kami bersama Nabi, dan beliau dalam keadaan memegang tangan Umar bin
Khathab, lalu Umar berkata kepada beliau :”Wahai, Rasulullah! Sungguh
engkau lebih aku cintai lebih dari segala sesuatu kecuali diriku,”
lali Nabi bersabda,” Tidak, demi dzat yang jiwaku di tanganNya,
sampai aku lebih kamu cintai dari dirimu sendiri’. Lalu Umarpun berkata:”Sekarang,
demi Allah, sungguh engkau lebih aku cintai dari diriku sendiri,”
lalu Nabi bersabda :” Sekarang, wahai Umar!” HREF="#foot113">8
Juga hadits Anas bin Malik, Rasulullah bersabda :
Tiga hal, yang apabila seseorang memilikinya, maka akan mendapatkan
manisnya; orang yang menjadikan Allah dan RasulNya lebih ia cintai
dari selainnya, orang yang mencintai seorang hamba hanya karena Allah,
dan orang yang benci kekafiran setelah Allah selamatkan darinya dan
sebagaimana benci dilemparkan ke neraka. HREF="#foot114">9
Juga hadits yang diriwayatkan sahabat Anas bin Malik lainnya yang
berbunyi :
Seorang penduduk badui menjumpai Rasulullah dan bertnya :”Wahai
Rasulullah! Kapan hari Kiamat akan terjadi?” Beliau menjawab,”
Apa yang telah engkau persiapkan untuknya?” Ia menjawab,” Aku
tidak memiliki persiapan, kecuali aku mencintai Allah dan RasulNya,”
maka Rasulullah bersabda,” Sungguh, engkau bersama orang-orang yang
engkau cintai,” lalu Kami berkata :”Demikian juga kami?” Beliau
menjawab,”Ya.” Maka kamipun pada hari itu sangat berbahagia.
Dalam riwayat Imam Muslim terdapat tambahan lafadz :
Anas berkata : “Sungguh aku mencintai Allah, Rasulnya, Abu BakarMasih banyak hadits-hadits yang menjelaskan wajibnya mencintai Rasulullah.
Dan Umar, lalu aku berharap bisa bersama mereka, walaupun aku belum
beramal dengan amalan mereka”. HREF="#foot115">10
Sehingga pantaslah bila Syaikhul Islam menyatakan, cinta Allah dan
Rasulnya termasuk kewajiban iman terbesar dan pokok, dan kaidah iman
yang teragung. Bahkan ia merupakan landasan semua amalan iman dan
agama.
0 Comment :
Posting Komentar