Jika kewajiban dan hakikat cinta kepada Rasulullah yang diminta oleh Allah telah diketahui, maka untuk menambah semangat kita, berikut akan dipaparkan bagaimana kecintaan para sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kesetiaan dan kepatuhan mereka terhadap perintah beliau. Semoga kita dapat meneladani mereka, amiin.
3 Sahabat Dan Kecintaan Kepada Rasulullah
Para sahabat telah mendapat kemuliaan berjumpa dengan nabi. Mereka
melihat langsung kemuliaan dan keluhuran akhlak beliau. Mereka juga
langsung menyaksikan turunnya wahyu kepada Rasulullah, Oleh karena
itu, perlu kita lihat betapa besar kecintaan para sahabat kepada Rasulullah.
Banyak kisah tentang perwujudan cinta mereka kepada Rasulullah. Di
antaranya kisah perjalanan beliau ke Hudaibiyah dan perjanjian Hudaibiyyah
yang disampaikan Imam Al Bukhari dengan sangat panjang. Di antara
isinya adalah :
Ketika mereka dalam keadaan demikian , tiba-tiba datangnya Budail
bin Waraqaa Al Khuzaa’i bersama beberapa orang dari kaumnya Khuza’ah,
dan mereka ini adalah orang-orang yang dipercaya Rasulullah (dapat
menyimpan rahasia dan amanah) dari penduduk tihaamah.
Lalu Budail berkata,”Sungguh aku tinggaalkan Ka’ab bin Lu’ai dan
‘Amir bin Lu’ai tinggal di sekitar sumber air Hudaibiyah dan bersama
mereka harta. Wanita dan anak-anak mereka dalam keadaan siap memerangi
dan mencegahmu dari Ka’bah”.
Maka Rasulullah berkata,
”Kami datang bukan untuk berperang, namun kami datang untuk berumrah.
Sungguh Quraisy telah menjadi lemah dan rugi karena perang . Maka
jika mereka ingin, aku akan menawarkan gencatan senjata beberapa waktu
dan membiarkan urusanku dengan orang-orang. Maka jika aku menang,
bila mereka ingin memeluk apa yang orang lain memeluknya (beragama),
mereka bisa kerjakan. Dan kalau tidak menang , maka mereka telah beristirahat
dari peperangan. Apabila mereka menolak (tawaran ini), maka demi Dzat
yang jiwaku ada di tanganNya, tentu akan aku perangi di atas agama
ini sampai bahuku terpisah (aku terbunuh), dan Allah pasti akan mewujudkan
perintahnya.”
Lalu Budail berkata, ”Saya akan sampaikan pada mereka apa yang engkau
sampaikan”.
Perawi (hadits ini) berkata: Lalu Budail berangkat sampai mendatangi
Quraisy, ia berkata: ”Aku telah mendatangi kalian dari lelaki tersebut,
dan kami telah mendengar dari pernyataannya. Jika kalian ingin, kami
sampaikan kepada kalian, kami akan lakukan”.
Maka orang bodoh mereka berkata, ”Kami tidak butuh engkau memberitahukan
hal itu”. Sedangkan tokoh mereka berkata: ”Silahkan beritahu apa
yang telah engkau dengar dari pernyataannya”.
Budail berkata, ”Aku mendengar ia berkata demikian dan demikian,”
lalu Budail menyampaikan kepada mereka pernyataan Nabi. Lalu Urwah
bin Mas’ud bangkit dan berkata,”Wahai, kaum! Bukankah kalian orang
tua ?”
Mereka menjawab,”Ya.”
Ia berkata lagi,”Bukankah aku ini anak kalian?”
Mereka menjawab,”Ya!”
Ia berkata lagi :”Apakah kalian meragukanku?”
Mereka menjawab,”Tidak!”
Ia berkata lagi :”Bukankah kalian mengetahui, bahwa aku telah memerintahkan
penduduk ‘Ukaadz untuk berperang. Ketika mereka menolaknya, maka aku
mendatangkan keluarga dan anakku, serta orang yang mentaatiku?”
Mereka menjawab,”Ya.”
Ia berkata lagi :”Sungguh orang itu telah menawarkan kepada kalian
perkara yang baik, maka terimalah dan biarkanlah aku menemuinya”.
Mereka menjawab,”Datangilah!” lalu Urwah mendatangi Rasulullah,
dan mulailah ia berbicara kepada Nabi, lalu Nabi menjawab seperti
yang beliau sampaikan kepada Budail.
Maka Urwahpun, ketika itu berkata :”Wahai Muhammad. Bagaimana pendapatmu
bila engkau habiskan perkara kaummu, apakah engkau pernah mendengar
seorang dari bangsa Arab menghancurkan keluarganya sebelummu? Namun
bila sebaliknya, sungguh aku tidak melihat orang-orang dan aku yakin
orang-orang campuran tersebut, pasti akan lari dan meninggalkanmu”.
Maka Abu Bakar berkata kepadanya: Sedot kemaluannya Latta! Apakah
mungkin kami akan lari dan meninggalkannya ?
Maka Urwahpun menyahut :”Siapa itu?”
Mereka menjawab Abu Bakar,” lalu Urwah berkata,”Seandainya bukan
karena jasa baikmu kepadaku dahulu (yang) menghalangiku, tentu aku
akan menjawab (pernyataan)mu ini.”
Urwah kembali berbicara kepada Rasulullah. Setiap kali berbicara maka
ia memegangi janggut Rasulullah. Dan Al Mughirah bin Syu’bah berdiri
di belakang kepada Nabi membawa pedang dan tutup kepala dari besi,
sehingga setiap kali Urwah menggerakkan tangannya kearah jenggot Nabi,
maka Al Mughirah memukulnya dengan pedang, dan berkata :”Tahan tanganmu
dari jenggot Rasulullah,” lalu Urwah pun mengangkat kepalanya dan
berkata :”Siapa ini?”
Mereka menjawab,”Al Mughirah bin Syu’bah,”Maka Urwah pun berkata
:”Wahai, pengkhianat! Bukankah aku telah berusaha menghilangkan
(kejelekkan) pengkhianatanmu?”
Memang, dahulu pada zaman jahiliyah, Al Mughirah pernah menemani satu
kaum, lalu membunuh dan merampok harta mereka, kemudian datang masuk
Islam, lalu Nabi berkata,
”Adapun Islammu aku terima, sedangkan harta itu bukan urusanku”.
Kemudian Urwah mulai memperhatikan para sahabat Nabi dengan kedua
matanya. Ia berkata,
”Demi Allah tidaklah Rasululah mengeluarkan dahak, kecuali mengenai
satu telapak seorang dari mereka, lalu menggosokkannya ke wajah dan
kulitnya. Dan jika beliau memerintahkan mereka, maka mereka segera
melaksanakannya. Juga jika beliau berwudhu, maka mereka seakan-akan
berperang memperebutkan air wudhunya. Dan jika berbicara, mereka merendahkan
suara- suara mereka. Mereka tidak memandang langsung Rasulullah karena
mengagungkanya,”
Lalu Urwah pun pulang menemui teman-temannya dan berkata:
”Wahai kaum! Demi Allah! Sungguh aku pernah menemui para raja, menemui
kaisar, Kisra dan Najasy. Demi Allah! Tidak pernah aku melihat seorang
raja yang diagungkan para sahabatnya seperti para sahabat Muhammad
kepada Muhammad. Demi Allah! Tidaklah keluar dahak darinya, kecuali
mengenai telapak dari seorang mereka, lalu menggosokkannya di wajah
dan kulitnya. Jika ia memerintahkan mereka, maka mereka segera melaksanakannya.
jika ia berwudhu, mereka seakan-akan berperang memperebutkan air sisa
wudhunya. Dan jika berbicara, mereka merendahkan suara-suara mereka
serta tidak memandang langsung kepadanya karena mengagungkannya. Sungguh
ia telah menawarkan kepada kalian kebaikan, maka terimalah!” HREF="#foot123">18
Kita lihat, betapa besar kecintaan sahabat kepada Rasulullah. Mereka
wujudkan kecintaan tersebut dalam amalan nyata. Di antaranya dengan
melaksanakan perintah beliau, merendahkan suara di hadapannya dan
bersikap takdim di depan beliau. Kisah ini dilihat dan dipersaksikan
langsung oleh musuh beliau waktu itu.
Bagaimana dengan kita kaum Muslimin sebagai pengikut beliau ? Tentu
menjadi sebuah keharusan untuk mewujudkan cinta kepada Nabi dalam
realitas kehidupan sehari-hari. Semoga Allah memudahkan kita mengikuti
tauladan tercinta., Rasulullah Muhammad. Wabillahit taufiq. (Redaksi).
Maraji’
Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah.
Huquq An Nabi ‘ala Umatihi fi Dhu’il kitab wa as Sunnah, DR. Muhammad
Khalifah At Tamimi, Cet. pertama, Th. 1421 H, Penerbit Adwaa’as Salaf.
At Tuhfah Al Iraqiyah fil A’mal Al Qalbiyah, Ibnu Taimiyah, tahqiq
DR. Yahya Muhammad Al Hunaidi, Cet. pertama, Th. 1421 H, Maktabat
Ar Rusyd.
Thariq Al Wushul ila Idhah Ats Tsalatsah Al Ushul, Syaikh Zaid bin
Muhammad bin Hadi Al Madkhali, Cet. Tahun 1422 H, Maktabah Al Furqaan,
UEA.
Jala’ Al Afhaam fi Fadhli Ash Shalat wa as Salam ‘ala Khairil Anam,
Ibnul Qayyim, tahqiq Zaid bin Ahmad An Nasyiri, Cet. Pertama, Th.
1425 H. Dar ‘alam Al Fawaaid.
Sabtu, 21 Agustus 2010
Hakikat Cinta Nabi
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 Comment :
Posting Komentar